Cut Meutia Memimpin Pergerakan
Walaupun Pang Nanggroe suaminya sekaligus
pemimpin perlawanan telah syahid menghadap Ilahi Cut Meutia tetap melanjutkan
perjuangan dan perlawanan bersenjata bersama-sama sahabat setia pejuang
muslimin dan terus bergerilya naik gunung turun gunung melakukan penyerangan
dan penyergapan. Mereka tidak mau menyerah kepada Belanda. Untuk melaksanakan
perjuangan yang berlanjut tersebut diperlukan seorang pemimpin yang tangguh
dipercayai, serta disegani oleh lawan maupun kawan oleh karena itu, atas
kesepakatan dan saran pejuang muslim pimpinan pergerakan diserahkan kepadaCut
Meutia. Jiwa semangat pejuang dan kearifannya muncul tatkala ia diminta untuk
memimpin pergerakan dengan rasa haru dan senyum, Cut Meutia memberikan
tanggapannya sebagai berikut :
Kalau demikian maka sekarang aku terangkan pada saudara sekalian dan Teungku-Teungku
yang hadir pada hari ini dan kepada anakku Raja Sabi, bahwa, penyerahan
pimpinan itu aku terima dengan penuh tanggungjawab pada agama dan negeri kita,
akan tetapi bila pimpinanku
kurang sempurna supaya cepat ditegur, sehingga segala urusan dapat berjalan
lancar dan baik dan supaya kita semua seiya sekata, bersatu hati dan tidak
terpecah belah. Janganlah dipandang kepadaku dan anakku yang masih kecil ini akan tetapi
pandanglah kepada ayahnya Teuku Chik Tunong dan kepada pang Nanggroe yang baru
saja gugur meninggalkan kita sekalian. Sekali lagi aku jelaskan bahwa aku
seorang wanita yang kurang daya dan tenaga. Bila anakku ini telah dewasa dan
sudah dapat memimpin perang, maka akan kuserahkan pipimpinan perang Sabil
kepadanya dari itu peliharalah, didiklah, dan jagalah dia dengan baik-baik,
semoga lekas besarlah dia untuk memimpin perang melawan kaphe Belanda pada masa
mendatang. (Ismail Yakub, 1979: 68/69).
Saat Cut Meutia berbicara itu maka menangislah terisak-
terisak, akhirnya Cut Meutia mengakhiri kata-katanya kepada Tuhan juga kita
menyerahkan diri, Dialah tempat kita meminta tolong, tempat memohon rahmat dan
hidayahnya amin.Atas anjuran beberapa sahabat setianya, maka markas perjuangan
dipindahkan dan bergabung dengan para pejuang lainnya di daerah Gayo dan Alas
bersama-sama dengan pasukan muslimin di bawah pimpinan Teuku Seupot Mata.
Pada tanggal 22 Oktober 1910 pasukan Belanda mengejar
pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Besoknya
(tanggal 23 Oktober 1910) pengejaran diteruskan kembali, mereka mengejar cepat
pasukan Cut Meutia yang berada dipengkolan Krueng Peutoe menuju arah Bukit
Paya. Perjuangan Cut Meutia beserta muslim lainnya semakin sulit, basis
perjuangan terus berpindah-pindah dari daerah ke daerah yang bergunung dan hutan
belantara. Mereka terus dikejar tempat persembunyiannya dapat diketahui berdasarkan informasi
para pengkhianat bangsa. Selain itu mereka tidak mampu secara sporadis
menantang adu perang dengan pasukan Belanda karena jumlah pasukan pejuang
muslim semakin kecil dan perbekalan, serta amunisi sangat terbatas. Akan tetapi
perlu dicatat bahwa semangat persatuan dan kebersamaan yang mereka tunjukkan
cukup memberikan andil dalam pergerakan mereka. Semangat pantang menyerah lebih
baik mati syahid dari pada turun gunung untuk menyerah membuat pengejaran oleh
pasukan Belanda cukup melelahkan dan merisaukan karena pasukan Belanda tidak
dapat menemukan dan menghancurkan mereka.
Pengejaran demi pengejaran yang dilalakukan pasukan Belanda
berakhirlah sudah, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1910 pasukan Belanda
bergerak kearah Krueng Peutoe yang airnya dangkal terjadilah bentrokan dahsyat.
Pasukan Cut Meutia tidak mungkin mundur
lagi dengan semangat jihat Fisabilillah mereka maju menentang pasukan Belanda
dengan keyakinan yang satu lebih baik mati syahid dari pada menyerah kaphe
Belanda penjajah tanah air tercinta. Oleh karena itu posisi Cut Muetia yang
kurang menguntungkan dengan sikap gagah berani dia tampil ke depan dengan
rencong terhunus maju bertempur di sertai dengan semangat dan jiwa kesatria.
Sebagai srikandi Aceh ia maju seperti banteng terluka dengan pekikan Allahu
Akbar beliau iringi penyerangan.
Dalam pertempuran inilah Cut Meutia syahid sebagai kesuma
bangsa bersamasama dengan beberapa pejuang muslimin lainnya serta para ulama
seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh.
Menjelang ajalnya Cut Meutia sempat membisikan kepada
sahabat dekatnya yang bernama Teungku Syech Buwah, supaya jangan bertempur
lagi, strategi kalian adalah mundur dan mengatur siasat perjuangan selanjutnya
karena posisi kita terlalu sulit jangan korbankan perjuangan kini, tetapi hari
esok masih panjang dan berguna untuk perjuangan. Setanjutnya ia berkata
selamatkan anakku Raja Sabi. Carilah anakku dimana sekarang, tolong pelihara
dia baik-baik, mungkin ajalku akan datang di tempat ini, …. Aku titipkan anakku
dalam tanganmu semoga Tuhan menyelamatkannya. (lsmail Yakub, 1979: 70).
Demikian sejarah kehidupan srikandi Aceh Cut Meutia catatan
sejarah kehidupannya ini hanya sebahagian kecil diungkapkan karena sebenarnya
riwayat hidupnya sangatlah panjang. Sebagai pelopor pergerakan untuk
menghancurkan penjajahan Belanda di tanah rencong tercinta, ia diakui oleh
kawan dan lawan dia bukan saja sebagai pengatur siasat dan strategi yang paling
jitu ia juga mampu tampil sendiri sebagai pimpinan perang. Sebagai ibu rumah
tangga iapun merupakan seorang wanita jujur bertanggungjawab besar kepada
pendidikan dan kemajuan walaupun dia bergerilya di hutan belantara ia tetap
menanamkan ajaran ketauhidan di dalam perjuangan menghancurkan kaphe Belanda
sehingga kelak anaknya akan mampu juga mewarisi nilai perjuangan orang
tuanya.Rentang sejarah perjuangan dan kehidupannya telah lestari bagi jiwa
bangsa kita pada umumnya dan masyarakat Aceh khususnya. Oleh karena itu patut
kita camkan akan keteladanan dan pengabdian kepada nusa bangsa dan agama dengan
selalu menghayati dan ikut memberdayakan dalam kehidupan, mengisi kemerdekaan
bangsa kita dan tanah rencong tercinta, sehingga cita-citanya akan abadi
selalu. Apa yang dapat kita banggakan kalau kita hanya berdiam diri dengan
tidak mau perduli terhadap kemajuan yang telah kita peroleh dan akan berlanjut
kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar