Sabtu, 08 Juni 2013

CUT MEUTIA PART IV



Cut Meutia Memimpin Pergerakan 
Walaupun Pang Nanggroe suaminya sekaligus pemimpin perlawanan telah syahid menghadap Ilahi Cut Meutia tetap melanjutkan perjuangan dan perlawanan bersenjata bersama-sama sahabat setia pejuang muslimin dan terus bergerilya naik gunung turun gunung melakukan penyerangan dan penyergapan. Mereka tidak mau menyerah kepada Belanda. Untuk melaksanakan perjuangan yang berlanjut tersebut diperlukan seorang pemimpin yang tangguh dipercayai, serta disegani oleh lawan maupun kawan oleh karena itu, atas kesepakatan dan saran pejuang muslim pimpinan pergerakan diserahkan kepadaCut Meutia. Jiwa semangat pejuang dan kearifannya muncul tatkala ia diminta untuk memimpin pergerakan dengan rasa haru dan senyum, Cut Meutia memberikan tanggapannya sebagai berikut :
Kalau demikian maka sekarang aku terangkan pada saudara sekalian dan Teungku-Teungku yang hadir pada hari ini dan kepada anakku Raja Sabi, bahwa, penyerahan pimpinan itu aku terima dengan penuh tanggungjawab pada agama dan negeri kita, akan tetapi bila pimpinanku kurang sempurna supaya cepat ditegur, sehingga segala urusan dapat berjalan lancar dan baik dan supaya kita semua seiya sekata, bersatu hati dan tidak terpecah belah. Janganlah dipandang kepadaku dan anakku yang masih kecil ini akan tetapi pandanglah kepada ayahnya Teuku Chik Tunong dan kepada pang Nanggroe yang baru saja gugur meninggalkan kita sekalian. Sekali lagi aku jelaskan bahwa aku seorang wanita yang kurang daya dan tenaga. Bila anakku ini telah dewasa dan sudah dapat memimpin perang, maka akan kuserahkan pipimpinan perang Sabil kepadanya dari itu peliharalah, didiklah, dan jagalah dia dengan baik-baik, semoga lekas besarlah dia untuk memimpin perang melawan kaphe Belanda pada masa mendatang. (Ismail Yakub, 1979: 68/69).
Saat Cut Meutia berbicara itu maka menangislah terisak- terisak, akhirnya Cut Meutia mengakhiri kata-katanya kepada Tuhan juga kita menyerahkan diri, Dialah tempat kita meminta tolong, tempat memohon rahmat dan hidayahnya amin.Atas anjuran beberapa sahabat setianya, maka markas perjuangan dipindahkan dan bergabung dengan para pejuang lainnya di daerah Gayo dan Alas bersama-sama dengan pasukan muslimin di bawah pimpinan Teuku Seupot Mata.
Pada tanggal 22 Oktober 1910 pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Besoknya (tanggal 23 Oktober 1910) pengejaran diteruskan kembali, mereka mengejar cepat pasukan Cut Meutia yang berada dipengkolan Krueng Peutoe menuju arah Bukit Paya. Perjuangan Cut Meutia beserta muslim lainnya semakin sulit, basis perjuangan terus berpindah-pindah dari daerah ke daerah yang bergunung dan hutan belantara. Mereka terus dikejar tempat persembunyiannya dapat diketahui berdasarkan informasi para pengkhianat bangsa. Selain itu mereka tidak mampu secara sporadis menantang adu perang dengan pasukan Belanda karena jumlah pasukan pejuang muslim semakin kecil dan perbekalan, serta amunisi sangat terbatas. Akan tetapi perlu dicatat bahwa semangat persatuan dan kebersamaan yang mereka tunjukkan cukup memberikan andil dalam pergerakan mereka. Semangat pantang menyerah lebih baik mati syahid dari pada turun gunung untuk menyerah membuat pengejaran oleh pasukan Belanda cukup melelahkan dan merisaukan karena pasukan Belanda tidak dapat menemukan dan menghancurkan mereka.
Pengejaran demi pengejaran yang dilalakukan pasukan Belanda berakhirlah sudah, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1910 pasukan Belanda bergerak kearah Krueng Peutoe yang airnya dangkal terjadilah bentrokan dahsyat. Pasukan Cut Meutia tidak mungkin mundur lagi dengan semangat jihat Fisabilillah mereka maju menentang pasukan Belanda dengan keyakinan yang satu lebih baik mati syahid dari pada menyerah kaphe Belanda penjajah tanah air tercinta. Oleh karena itu posisi Cut Muetia yang kurang menguntungkan dengan sikap gagah berani dia tampil ke depan dengan rencong terhunus maju bertempur di sertai dengan semangat dan jiwa kesatria. Sebagai srikandi Aceh ia maju seperti banteng terluka dengan pekikan Allahu Akbar beliau iringi penyerangan.
Dalam pertempuran inilah Cut Meutia syahid sebagai kesuma bangsa bersamasama dengan beberapa pejuang muslimin lainnya serta para ulama seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh.
Menjelang ajalnya Cut Meutia sempat membisikan kepada sahabat dekatnya yang bernama Teungku Syech Buwah, supaya jangan bertempur lagi, strategi kalian adalah mundur dan mengatur siasat perjuangan selanjutnya karena posisi kita terlalu sulit jangan korbankan perjuangan kini, tetapi hari esok masih panjang dan berguna untuk perjuangan. Setanjutnya ia berkata selamatkan anakku Raja Sabi. Carilah anakku dimana sekarang, tolong pelihara dia baik-baik, mungkin ajalku akan datang di tempat ini, …. Aku titipkan anakku dalam tanganmu semoga Tuhan menyelamatkannya. (lsmail Yakub, 1979: 70).
Demikian sejarah kehidupan srikandi Aceh Cut Meutia catatan sejarah kehidupannya ini hanya sebahagian kecil diungkapkan karena sebenarnya riwayat hidupnya sangatlah panjang. Sebagai pelopor pergerakan untuk menghancurkan penjajahan Belanda di tanah rencong tercinta, ia diakui oleh kawan dan lawan dia bukan saja sebagai pengatur siasat dan strategi yang paling jitu ia juga mampu tampil sendiri sebagai pimpinan perang. Sebagai ibu rumah tangga iapun merupakan seorang wanita jujur bertanggungjawab besar kepada pendidikan dan kemajuan walaupun dia bergerilya di hutan belantara ia tetap menanamkan ajaran ketauhidan di dalam perjuangan menghancurkan kaphe Belanda sehingga kelak anaknya akan mampu juga mewarisi nilai perjuangan orang tuanya.Rentang sejarah perjuangan dan kehidupannya telah lestari bagi jiwa bangsa kita pada umumnya dan masyarakat Aceh khususnya. Oleh karena itu patut kita camkan akan keteladanan dan pengabdian kepada nusa bangsa dan agama dengan selalu menghayati dan ikut memberdayakan dalam kehidupan, mengisi kemerdekaan bangsa kita dan tanah rencong tercinta, sehingga cita-citanya akan abadi selalu. Apa yang dapat kita banggakan kalau kita hanya berdiam diri dengan tidak mau perduli terhadap kemajuan yang telah kita peroleh dan akan berlanjut kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar