Cut Meutia di lahirkan pada tahun 1870, anak dari hasil
perkawinan antara Teuku Ben Daud Pirak dengan Cut Jah. Dalam perkawinan
tersebut mereka dikaruniai 5 orang anak. Cut Meutia merupakan putri
satu-satunya di dalam keluarga tersebut, sedangkan keempat saudaranya adalah
laki-laki. Saudara tertua bernama Cut Beurahim disusul kemudian Teuku
Muhammadsyah, Teuku Cut Hasen dan Teuku Muhammad Ali. Ayahnya adalah seorang Uleebalang di desa Pirak yang berada dalam daerah
Keuleebalangan Keureutoe.
Pemberian nama yang indah pada dirinya dengan Meutia
(berarti mutiara) bukan saja karena paras wajahnya yang cantik, tetapi bentuk
tubuh yang indah menyertainya. Pengakuan keindahan rupa dan tubuhnya tidak
luput dari perhatian seorang penulis Belanda yang mengungkapkan :
Cut Meutia bukan saja amat cantik tetapi iapun memiliki
tubuh yang tampan dan menggairahkan. Dengan mengenakan pakaian adatnya yang
indah-indah menurut kebiasaan wanita di Aceh dengan silueue (celana) sutera
berwarna hitam dan baju dikancing perhiasan-perhiasan emas di dadanya serta
tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam pekat dihiasi ulee cemara emas
(sejenis perhiasan rambut) dengan gelang di kakinya yang melingkar pergelangan
lunglai, wanita itu benarbenar seorang bidadari (H.C. Zentgraaff, 1983: 151).
Dalam perjalanan kehidupannya Cut Meutia bukan saja menjadi
mutiara keluarga dan desanya Pirak, melainkan ia telah menjadi mutiara yang
tetap kemilau bagi nusantara .
Daerah uleebalang Pirak tempat kelahirannya merupakan
daerah yang berdiri sendiri karena daerah ini mempunyai pemerintahan dan
kehakiman tersendiri sehingga dapat memutuskan perkara-perkara dalam tingkat
yang rendah. Saat daerah UleebalangPirak
di bawah kepemimpinan Teuku Ben Daud (ayah Cut Meutia) Suasana penuh dengan
ketenangan dan kedamaian sebagai seorang yang bijaksana perhatian Teuku Ben
Daud selalu tertumpah pada rakyatnya karena selain sebagai uleebalang dia juga
dikenal sebagai seorang ulama yang sampai akhir hayatnya tidak mau tunduk dan
patuh pada Belanda, tidaklah mengherankan jika sifat kesatria itu terbina dalam
diri Cut Meutia kelak.
Sebagaimana kebiasaan rakyat Aceh, maka sejak kecil Meutia
telah diberikan pendidikan agama Islam, terutama pendidkan yang mengajarkan
tentang kebesaran Islam yaitu sikap benci terhadap kemungkaran dan penindasan
dan tidak merasa senang terhadap siapa saja yang mengganggu agama Islam dan
bangsanya. Bagi mereka mati membela agama syahid hukumnya yang pahalanya adalah
mendapat syurga di akhirat kelak.
Begitu juga halnya Meutia Kecil, ia dididik dengan
pelajaran agama yang ketat, baik di tempat pengajian maupun dengan cara
mendatangkan guru atau ulama ke rumahnya, bahkan kadang kala ayahnya sendiri
bertindak sebagai guru. Penempaan semangat Jihat Fisabilillah dalam dirinya
ikut memotivasi Cut meutia nantinya hingga la bangkit bersama-sama suaminya
Teuku Cut Muhammad, Pang Nanggroe dan secara pribadi muncul sebagai pimpinan
pergerakan meneruskan perjuangan mengusir penjajahBelanda. Sampai dengan masa
dewasanya, ia ditunangkan dan dikawinkan oleh orangtuanya dengan Teuku
Syamsarif yang mempunyai gelar Teuku Chik Bintara, namun la mempunyai watak
lemah dan sikap hidupnya yang ingin berdampingan dengan Kompeni. Ia merupakan
anak angkat dan Teuku Chik Muda Ali dan Cut Nyak Asiah Uleebalang Keureutoe.
Daerahnya mencakup dari Krueng Pase sampai ke Panton Labu (Krueng Jambo Aye)
yang pusat Pemerintahannya di daerah Kutajrat Manyang yang sekarang terletak 20
km dari kota administratif Lhokseumawe.
Pertentangan-Pertentangan pendirian yang semakin hari
semakin terasa membuat Cut Meutia merasa tidak layak lagi hidup berdampingan
dengan Teuku Chik Bintara. Di dalam jiwanya telah terpatri semangat
Fisabilillah sehingga sikap anti kepada Belanda selalu mengiringinya. Berbeda
dengan Teuku Chik Bintara yang senantiasa senang bekerjasama dengan Belanda
sebagaimana Yang diungkapkan Muhammad Said :
Cut Meutia selain cantik tapi juga gairah dan gaya, ….
Tidak layak ia menjadi istri Teuku Bintara apalagi untuk diajak bergantung
“kompeni” ialah puteri yang murni dari bangsanya. Jiwa raganya melekat terus
kepada para pejuang yang tidak mau tunduk dan tinggal di gunung, mereka hanya
tunduk mengabdi pada jalan Fisabilillah di mana ayah bundanya aktif serta.
Kesanalah idamannya, ditempat yang selalu ia pergi bebas dari kafir (Muhammad
Said, 1985: 264).
Akhirnya perkawinan mereka tidak bertahan lama ia bercerai
dan kemudian menikah dengan adik Syamsarif sendiri yaitu Teuku Chik Muhammad
atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Tunong. Cut Meutia telah
mendapat pria yang menjadi idamannya. Seirama dan secita-cita dalam derap
langkah memerangi kompeni (Belanda). Mereka lalu berhijrah ke gunung bahu
membahu bersama pejuang lainnya menyusun rencana dalam rangka penyerangan
terhadap Belanda Selain itu, perkawinan ini juga berarti sekaligus merupakan
suatu cara meraih cita-cita karena bukan saja ia mendapatkan suami yang gagah
berani, tetapi juga sebagai pemimpin pejuang Perlawanan yang sangat ditakuti
oleh Belanda sebagaimana yang didambakannya selama ini.
Untuk mengungkapkan sejarah perjuangan Cut Meutia, tidaklah
terlepas pada uraian tentang masa perjuangannya bersama Teuku Chik Muhammad
(sebagai suami kedua), atau dengan Pang Nanggroe sebagai suami ketiga dan
perjuangannya sendiri sebagai pemimpin perang pada masa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar