Sabtu, 08 Juni 2013

CUT MEUTIA PART I



Cut Meutia di lahirkan pada tahun 1870, anak dari hasil perkawinan antara Teuku Ben Daud Pirak dengan Cut Jah. Dalam perkawinan tersebut mereka dikaruniai 5 orang anak. Cut Meutia merupakan putri satu-satunya di dalam keluarga tersebut, sedangkan keempat saudaranya adalah laki-laki. Saudara tertua bernama Cut Beurahim disusul kemudian Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasen dan Teuku Muhammad Ali. Ayahnya adalah seorang Uleebalang di desa Pirak yang berada dalam daerah Keuleebalangan Keureutoe.
Pemberian nama yang indah pada dirinya dengan Meutia (berarti mutiara) bukan saja karena paras wajahnya yang cantik, tetapi bentuk tubuh yang indah menyertainya. Pengakuan keindahan rupa dan tubuhnya tidak luput dari perhatian seorang penulis Belanda yang mengungkapkan :
Cut Meutia bukan saja amat cantik tetapi iapun memiliki tubuh yang tampan dan menggairahkan. Dengan mengenakan pakaian adatnya yang indah-indah menurut kebiasaan wanita di Aceh dengan silueue (celana) sutera berwarna hitam dan baju dikancing perhiasan-perhiasan emas di dadanya serta tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam pekat dihiasi ulee cemara emas (sejenis perhiasan rambut) dengan gelang di kakinya yang melingkar pergelangan lunglai, wanita itu benarbenar seorang bidadari (H.C. Zentgraaff, 1983: 151).
Dalam perjalanan kehidupannya Cut Meutia bukan saja menjadi mutiara keluarga dan desanya Pirak, melainkan ia telah menjadi mutiara yang tetap kemilau bagi nusantara .
Daerah uleebalang Pirak tempat kelahirannya merupakan daerah yang berdiri sendiri karena daerah ini mempunyai pemerintahan dan kehakiman tersendiri sehingga dapat memutuskan perkara-perkara dalam tingkat yang rendah. Saat daerah UleebalangPirak di bawah kepemimpinan Teuku Ben Daud (ayah Cut Meutia) Suasana penuh dengan ketenangan dan kedamaian sebagai seorang yang bijaksana perhatian Teuku Ben Daud selalu tertumpah pada rakyatnya karena selain sebagai uleebalang dia juga dikenal sebagai seorang ulama yang sampai akhir hayatnya tidak mau tunduk dan patuh pada Belanda, tidaklah mengherankan jika sifat kesatria itu terbina dalam diri Cut Meutia kelak.
Sebagaimana kebiasaan rakyat Aceh, maka sejak kecil Meutia telah diberikan pendidikan agama Islam, terutama pendidkan yang mengajarkan tentang kebesaran Islam yaitu sikap benci terhadap kemungkaran dan penindasan dan tidak merasa senang terhadap siapa saja yang mengganggu agama Islam dan bangsanya. Bagi mereka mati membela agama syahid hukumnya yang pahalanya adalah mendapat syurga di akhirat kelak.
Begitu juga halnya Meutia Kecil, ia dididik dengan pelajaran agama yang ketat, baik di tempat pengajian maupun dengan cara mendatangkan guru atau ulama ke rumahnya, bahkan kadang kala ayahnya sendiri bertindak sebagai guru. Penempaan semangat Jihat Fisabilillah dalam dirinya ikut memotivasi Cut meutia nantinya hingga la bangkit bersama-sama suaminya Teuku Cut Muhammad, Pang Nanggroe dan secara pribadi muncul sebagai pimpinan pergerakan meneruskan perjuangan mengusir penjajahBelanda. Sampai dengan masa dewasanya, ia ditunangkan dan dikawinkan oleh orangtuanya dengan Teuku Syamsarif yang mempunyai gelar Teuku Chik Bintara, namun la mempunyai watak lemah dan sikap hidupnya yang ingin berdampingan dengan Kompeni. Ia merupakan anak angkat dan Teuku Chik Muda Ali dan Cut Nyak Asiah Uleebalang Keureutoe. Daerahnya mencakup dari Krueng Pase sampai ke Panton Labu (Krueng Jambo Aye) yang pusat Pemerintahannya di daerah Kutajrat Manyang yang sekarang terletak 20 km dari kota administratif Lhokseumawe.
Pertentangan-Pertentangan pendirian yang semakin hari semakin terasa membuat Cut Meutia merasa tidak layak lagi hidup berdampingan dengan Teuku Chik Bintara. Di dalam jiwanya telah terpatri semangat Fisabilillah sehingga sikap anti kepada Belanda selalu mengiringinya. Berbeda dengan Teuku Chik Bintara yang senantiasa senang bekerjasama dengan Belanda sebagaimana Yang diungkapkan Muhammad Said :
Cut Meutia selain cantik tapi juga gairah dan gaya, …. Tidak layak ia menjadi istri Teuku Bintara apalagi untuk diajak bergantung “kompeni” ialah puteri yang murni dari bangsanya. Jiwa raganya melekat terus kepada para pejuang yang tidak mau tunduk dan tinggal di gunung, mereka hanya tunduk mengabdi pada jalan Fisabilillah di mana ayah bundanya aktif serta. Kesanalah idamannya, ditempat yang selalu ia pergi bebas dari kafir (Muhammad Said, 1985: 264).
Akhirnya perkawinan mereka tidak bertahan lama ia bercerai dan kemudian menikah dengan adik Syamsarif sendiri yaitu Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Tunong. Cut Meutia telah mendapat pria yang menjadi idamannya. Seirama dan secita-cita dalam derap langkah memerangi kompeni (Belanda). Mereka lalu berhijrah ke gunung bahu membahu bersama pejuang lainnya menyusun rencana dalam rangka penyerangan terhadap Belanda Selain itu, perkawinan ini juga berarti sekaligus merupakan suatu cara meraih cita-cita karena bukan saja ia mendapatkan suami yang gagah berani, tetapi juga sebagai pemimpin pejuang Perlawanan yang sangat ditakuti oleh Belanda sebagaimana yang didambakannya selama ini.
Untuk mengungkapkan sejarah perjuangan Cut Meutia, tidaklah terlepas pada uraian tentang masa perjuangannya bersama Teuku Chik Muhammad (sebagai suami kedua), atau dengan Pang Nanggroe sebagai suami ketiga dan perjuangannya sendiri sebagai pemimpin perang pada masa itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar