Sabtu, 08 Juni 2013

CUT MEUTIA PART III



Perjuangan Cut Meutia bersama Pang Nanggroe 
Dalam fase berikutnya, perjuangan Cut Meutia dalam menentang penjajahan Belanda tidak terputus dan terus berlanjut. Sesuai dengan amanah dari suaminya Teuku Chik Tunong, Perjuangan terus dilanjutkan dan ia bersedia menerima Pang Nanggroe sebagai suami dan sekaligus sebagai pendamping dalam perjuangan. Kemudian, markas basis perjuangan mereka kini berada di Buket Bruek Ja. Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli Marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Untuk perbekalan perang diadakan hubungan dengan rakyat di kampung-kampung pada malam hari. Senapan, kelewang dibeli dari orang yang dapat merebutnya dari Belanda dengan harga yang tinggi sehingga dengan penuh semangat perjuangan Pang Nanggroe bersama dengan istrinya Cut Meutia menghadang patroli Marsose Belanda di setiap kesempatan. Penyerangan yang dilakukan oleh Pang Nanggroe-Cut Meutia dimulai dan hulu Krueng Jambo Aye suatu tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang banyak tempat tempat persembunyian pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia sering melakukan penyerangan ke tangsi-tangsi dan bivak pasukan Belanda dimana banyak terdapat para pejuang muslimin yang ditahan sekaligus membebaskan mereka dengan demikian penyerangan-penyerangan itu membuat pasukan Belanda marah dan gusar.
Pada tanggal 6 Mei 1907 pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak-bivak yang mengawal para pekerja kereta api. Dan hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi (H.C. Zentgraaff, 1983:160); Muhammad Said; 1983:269.
Pada tanggal 15 Juni 1907 pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan 8 orang luka-luka dan kehilangan 1 pucuk senjata (H.C. Zentgraaff, 1983: 160).
Taktik perjuangan perlawanan serta strategi penyerbuan yang dilakukan Pang Nanggroe-Cut Meutia selanjutnya adalah dengan taktik tipu daya dan menyebarkan isu. Isu yang disebarkan seolah-olah pasukan muslimin akan mengadakan pesta atau (kanduri) yaitu tepapnya disebelah selatan Matang Raya. Sebagai tempat jebakan dipilih adalah sebuah rumah tua yang direkayasa sedemikian rupa di mana setiap tiang rumah tersebut telah dipotong habis dengan gergaji. Agar bangunan itu nampak berdiri kokoh maka setiap tiang diikat dengan tali rotan dan dikaitkan pada pohon kayu terdekat. Setelah mendengar informasi tersebut, (sesuai dengan jadwal yang ditetapkan) pasukan Belanda melakukan gerakan untuk penyergapan, mereka memasuki rumah yang telah direkayasa tanpa ada rasa curiga apalagi nampak dalam ruangan tersebut berisikan makanan yang akan menyiurkan. Setelah pasukan Belanda berada di dalam rumah maka pasukan muslimin yang bersembunyi di belakang rumah yang penuh semak belukar langsung memotong tali yang dipersiapkan untuk menahan tiang-tiang rumah. Akhirnya robohlah tiang-tiang yang dibangun berikut dengan bangunan menimpa dan menghimpit pasukan Belanda yang ada di dalamnya. Selanjutnya pasukan muslimin dengan pedang rencong terhunus menyerbu sebagian pasukan Belanda yang masih berada di luar. Dengan diiringi pekikan Allahu Akbar, mate kaphe, pasukan Belanda menjadi panik dengan mudah pasukan muslimin mengalahkan mereka dan pada peristiwa ini pasukan Belanda banyak yang mati dan terluka.
Pergerakan dan perlawanan pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia terus berlanjut dan semakin dahsyat walaupun jumlah pasukan Belanda semakin ditingkatkan dan ditambah baik dari personil maupun persenjataan serta pembekalan akan tetapi semangat Jihat Fisabilillah pasukan muslimin semakin menggebu-gebu. Perjuangan mereka secara ikhlas untuk mewujudkan kebebasan kaphe Belanda serta di dorong oleh keyakinan mendapat ganjaran dan balasan dari Kalik pencipta alam di akhir masa kelak. Penyerbuan dan pencegatan yang dilakukan pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia adalah penghancuran jalur logistik pasukan Belanda yang dikirim dari Lhoksukon menuju Panton
Labu pada jalur kereta api. Pelaksanaannya adalah dengan membongkar rel-rel kereta api di depan tanjakan yang bertujuan untuk menghambat jalannya kereta api serta mempermudah pasukan muslimin menyerbu dan merebut semua perbekalan yang berada di dalamnya. Biasanya Penyerbuan ini dilakukan dari beberapa jurusan. Penyerbuan dan penyergapan yang dilakukan oleh Pang Nanggroe-Cut Meutia dengan cara memakai perahu-perahu, menyerang dari laut ke lokasi gudang perbekalan yang berada di Idi untuk merampas, senjata dan amunisi.
Di pertengahan tahun 1909 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan diketahui bahwa pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia. Pada subuh dini hari terjadilah bentrokan senjata yang hebat antara pejuang muslimin dengan pasukan Belanda serta pertarungan jarak dekat dengan senjata pedang dan rencong. Atas berkat pertolongan Allah dan kegigihan dalam perjuangan, maka dalam pertempuran tersebut banyak pasukan Belanda yang mati. Untuk mengelabui Belanda atas saran dan petunjuk para pejuang, maka pusat dan basis pertahanan dipindahkan dan berada pada daerah yang berbeda-beda setiap waktu, sedangkan taktik penyerbuan dan pencegatan tetap terus dilaksanakan dengan sistim bergerilya.
Dalam bulan Maret 1910 di rawa-rawa Jambo Aye, terjadi lagi bentrokan dan pertempuran senjata yang sengit, pasukan muslimin melakukan taktik serang dan mundur. Pasukan terus bepindah-pindah sampai ke daerah Peutoe, menyebabkan pasukan Belanda sulit untuk melacak posisi pasukan muslimin. Penyerangan pasukan yang sedang penasaran terus dilakukan dan pada tanggal 30 Juli 1910 terjadi bentrokan senjata di daerah Bukit Hague dan Paya Surien.
Selanjutnya pada bulan Agustus 1910 terjadi lagi penyerbuan pasukan Belanda di Matang Raya, dalam bentrokan senjata ini, banyak pejuang muslim teman setia Pang Nanggroe-Cut Meutia dan seorang ulamasyahid, sedangkan Pang Nanggroe-Cut Meutia, anaknya Teuku Raja Sabi, dan beberapa pejuang muslimin selamat dan dapat menghindari diri dari kepungan Pasukan Belanda.
Hari kelabu dan sedih akhirnya datang juga bagi Pang Nanggroe, yaitu pada tanggal 25 September 1910 di daerah Rawa dekat Paya Cicem, tepatnya di Buket Hague terjadi penyergapan dan pertempuran dahsyat, pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia mengalami pukulan hebat atas penyerangan yang dilakukan dengan gencar oleh pihak Belanda. Pada pertempuran inilah Pang Nanggroe syahid karena terkena tembakan peluru Belanda sedangkan Cut Meutia dan beberapa pejuang muslimin dapat melepaskan diri dari kepungan serta anaknya Teuku Raja Sabi juga dapat diselamatkan. Jenazah Pang Nanggroe dimakamkan di samping Masjid Lhoksukon. Sebelum meninggal dalam keadaan berlumuran darah Pang Nanggroe memanggil Teuku Raja Sabi yang berada di sampingnya seraya berkata, “Ambillah rencong yang berada di pinggangku serta pengikat kepalaku larilah cepat-cepat mencari ibumu (Cut Meutia), sampaikanlah salam perjuanganku dan teruskanlah perang Sabil, semoga kita akan bertemu nanti di akhirat. (Ismail Yakub; 1979:62).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar