Perjuangan Cut Meutia bersama Pang
Nanggroe
Dalam fase berikutnya, perjuangan Cut Meutia
dalam menentang penjajahan Belanda tidak terputus dan terus berlanjut. Sesuai
dengan amanah dari suaminya Teuku Chik Tunong, Perjuangan terus dilanjutkan dan
ia bersedia menerima Pang Nanggroe sebagai suami dan sekaligus sebagai
pendamping dalam perjuangan. Kemudian, markas basis perjuangan mereka kini
berada di Buket Bruek Ja. Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan
patroli Marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Untuk perbekalan
perang diadakan hubungan dengan rakyat di kampung-kampung pada malam hari.
Senapan, kelewang dibeli dari orang yang dapat merebutnya dari Belanda dengan
harga yang tinggi sehingga dengan penuh semangat perjuangan Pang Nanggroe
bersama dengan istrinya Cut Meutia menghadang patroli Marsose Belanda di setiap
kesempatan. Penyerangan yang dilakukan oleh Pang Nanggroe-Cut Meutia dimulai
dan hulu Krueng Jambo Aye suatu tempat pertahanan yang sangat strategis karena
daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang banyak tempat tempat
persembunyian pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia sering melakukan penyerangan ke
tangsi-tangsi dan bivak pasukan Belanda dimana banyak terdapat para pejuang
muslimin yang ditahan sekaligus membebaskan mereka dengan demikian
penyerangan-penyerangan itu membuat pasukan Belanda marah dan gusar.
Pada tanggal 6 Mei 1907 pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia
melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak-bivak yang mengawal para
pekerja kereta api. Dan hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan
luka-luka bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru
serta amunisi (H.C. Zentgraaff, 1983:160); Muhammad Said; 1983:269.
Pada tanggal 15 Juni 1907 pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia
menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda
mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan 8 orang luka-luka
dan kehilangan 1 pucuk senjata (H.C. Zentgraaff, 1983: 160).
Taktik perjuangan perlawanan serta strategi penyerbuan yang
dilakukan Pang Nanggroe-Cut Meutia selanjutnya adalah dengan taktik tipu daya
dan menyebarkan isu. Isu yang disebarkan seolah-olah pasukan muslimin akan
mengadakan pesta atau (kanduri) yaitu tepapnya disebelah selatan Matang Raya. Sebagai tempat jebakan dipilih adalah
sebuah rumah tua yang direkayasa sedemikian rupa di mana setiap tiang rumah
tersebut telah dipotong habis dengan gergaji. Agar bangunan itu nampak berdiri
kokoh maka setiap tiang diikat dengan tali rotan dan dikaitkan pada pohon kayu
terdekat. Setelah mendengar informasi tersebut, (sesuai dengan jadwal yang
ditetapkan) pasukan Belanda melakukan gerakan untuk penyergapan, mereka
memasuki rumah yang telah direkayasa tanpa ada rasa curiga apalagi nampak dalam
ruangan tersebut berisikan makanan yang akan menyiurkan. Setelah pasukan
Belanda berada di dalam rumah maka pasukan muslimin yang bersembunyi di
belakang rumah yang penuh semak belukar langsung memotong tali yang
dipersiapkan untuk menahan tiang-tiang rumah. Akhirnya robohlah tiang-tiang
yang dibangun berikut dengan bangunan menimpa dan menghimpit pasukan Belanda
yang ada di dalamnya. Selanjutnya pasukan muslimin dengan pedang rencong
terhunus menyerbu sebagian pasukan Belanda yang masih berada di luar. Dengan
diiringi pekikan Allahu Akbar, mate kaphe, pasukan Belanda menjadi panik dengan
mudah pasukan muslimin mengalahkan mereka dan pada peristiwa ini pasukan
Belanda banyak yang mati dan terluka.
Pergerakan dan perlawanan pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia
terus berlanjut dan semakin dahsyat walaupun jumlah pasukan Belanda semakin
ditingkatkan dan ditambah baik dari personil maupun persenjataan serta
pembekalan akan tetapi semangat Jihat Fisabilillah pasukan muslimin semakin
menggebu-gebu. Perjuangan mereka secara ikhlas untuk mewujudkan kebebasan kaphe
Belanda serta di dorong oleh keyakinan mendapat ganjaran dan balasan dari Kalik
pencipta alam di akhir masa kelak. Penyerbuan dan pencegatan yang dilakukan
pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia adalah penghancuran jalur logistik pasukan
Belanda yang dikirim dari Lhoksukon menuju Panton
Labu pada jalur kereta api. Pelaksanaannya adalah dengan
membongkar rel-rel kereta api di depan tanjakan yang bertujuan untuk menghambat
jalannya kereta api serta mempermudah pasukan muslimin menyerbu dan merebut
semua perbekalan yang berada di dalamnya. Biasanya Penyerbuan ini dilakukan
dari beberapa jurusan. Penyerbuan dan penyergapan yang dilakukan oleh Pang
Nanggroe-Cut Meutia dengan cara memakai perahu-perahu, menyerang dari laut ke
lokasi gudang perbekalan yang berada di Idi untuk merampas, senjata dan
amunisi.
Di pertengahan tahun 1909 pihak Belanda atas petunjuk orang
kampung yang dijadikan tawanan diketahui bahwa pusat pertahanan pasukan Pang
Nanggroe-Cut Meutia. Pada subuh dini hari terjadilah bentrokan senjata yang
hebat antara pejuang muslimin dengan pasukan Belanda serta pertarungan jarak
dekat dengan senjata pedang dan rencong. Atas berkat pertolongan Allah dan
kegigihan dalam perjuangan, maka dalam pertempuran tersebut banyak pasukan
Belanda yang mati. Untuk mengelabui Belanda atas saran dan petunjuk para
pejuang, maka pusat dan basis pertahanan dipindahkan dan berada pada daerah
yang berbeda-beda setiap waktu, sedangkan taktik penyerbuan dan pencegatan
tetap terus dilaksanakan dengan sistim bergerilya.
Dalam bulan Maret 1910 di rawa-rawa Jambo Aye, terjadi lagi
bentrokan dan pertempuran senjata yang sengit, pasukan muslimin melakukan
taktik serang dan mundur. Pasukan terus bepindah-pindah sampai ke daerah
Peutoe, menyebabkan pasukan Belanda sulit untuk melacak posisi pasukan
muslimin. Penyerangan pasukan yang sedang penasaran terus dilakukan dan pada
tanggal 30 Juli 1910 terjadi bentrokan senjata di daerah Bukit Hague dan Paya
Surien.
Selanjutnya pada bulan Agustus 1910 terjadi lagi penyerbuan
pasukan Belanda di Matang Raya, dalam bentrokan senjata ini, banyak pejuang
muslim teman setia Pang Nanggroe-Cut Meutia dan seorang ulamasyahid, sedangkan
Pang Nanggroe-Cut Meutia, anaknya Teuku Raja Sabi, dan beberapa pejuang
muslimin selamat dan dapat menghindari diri dari kepungan Pasukan Belanda.
Hari kelabu dan sedih akhirnya datang juga bagi Pang
Nanggroe, yaitu pada tanggal 25 September 1910 di daerah Rawa dekat Paya Cicem,
tepatnya di Buket Hague terjadi penyergapan dan pertempuran dahsyat, pasukan
Pang Nanggroe-Cut Meutia mengalami pukulan hebat atas penyerangan yang
dilakukan dengan gencar oleh pihak Belanda. Pada pertempuran inilah Pang
Nanggroe syahid karena terkena tembakan peluru Belanda sedangkan Cut Meutia dan
beberapa pejuang muslimin dapat melepaskan diri dari kepungan serta anaknya
Teuku Raja Sabi juga dapat diselamatkan. Jenazah Pang Nanggroe dimakamkan di samping
Masjid Lhoksukon. Sebelum meninggal dalam keadaan berlumuran darah Pang
Nanggroe memanggil Teuku Raja Sabi yang berada di sampingnya seraya berkata,
“Ambillah rencong yang berada di pinggangku serta pengikat kepalaku larilah
cepat-cepat mencari ibumu (Cut Meutia), sampaikanlah salam perjuanganku dan
teruskanlah perang Sabil, semoga kita akan bertemu nanti di akhirat. (Ismail
Yakub; 1979:62).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar