| Pongtiku lahir sebagai anak bungsu dari pasangan suami istri Karaeng dan Le'bok pada petengahan Abad ke XIX (1846) di Tondon Pangala'. Karaeng adalah penguasa adat Pangala' dan sekitarnya. Karena kemampuan dan kepemimpinan Pongtiku yang menonjol, maka sekalipun ia anak bungsu dialah yang menggantikan ayahandanya sebagai penguasa tatkala ayahnya sudah tua. Sebelum Angkatan Perang Belanda datang di Tana Toraja, orang Toraja telah mempunyai hubungan dagang dengan orang Bugis. Toraja Selatan dan Toraja Barat menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito sedang Toraja Utara mitra dagangnya adalah kerajaan Bone dan Luwu. Pimpinan orang Bugis dan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito adalah Petta Manyoro Lolo (Panglima Angkatan Perang Kerajaan Sidenreng) yang kemudian diketahui bernama Petta Serang, anak dari Raja Sidenreng, sedang pimpinan orang Bugis dari Kerajaan Bone dan Luwu adalah Petta Punggawa (Panglima tertinggi Angkatan Perang Bone, yang juga adalah Putra mahkota dengan nama Andi Baso' Abdul Hamid) Melalui hubungan dagang antara orang Bugis dan orang Toraja tersebut pemimpin-pemimpin Toraja dapat mengetahui bahwa akan pecah perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak mau lagi mengakui Perjanjian Bungaya yang mengatur hubungan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang sangat merugikan. Untuk mengantisipasi perang yang akan pecah dalam waktu tidak lama penguasa-penguasa Toraja mengadakan musyawarah di Tongkonan Buntu Pune Kesu' (Kediaman Pongmaramba') dan mencapai kesepakatan antara lain : Menggalang persatuan antar penguasa dengan menghilangkan semua benih-benih perpecahan dan mengangkat Pongtiku Panglima Perang sedang Pongmaramba' dan penguasa-penguasa adat lainnya sebagai Panglima Pasukan Penghancur. Kesepakatan mereka didasari motto : "Misa' Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate". Selesai musyawarah, Pongtiku kembali ke daerahnya untuk mempersiapkan dan menyiagakan benteng-bentengnya sebanyak 9 (Sembilan) buah menghadapi perang.Pada bulan Maret 1906, pasukan Angkatan Perang Belanda di bawah Pimpinan Kapten Killian dengan tujuan melucuti dan mengumpulkan senjata api dari semua penguasa Toraja. Komandan pasukan Belanda memerintahkan Pongtiku datang menghadap dan menyerahkan semua senjata yang dimilikinya. Pongtiku menolak, malah ia menyiagakan semua benteng-bentengnya menghadapi perang. Perang perlawanan Pongtiku dalam daerahnya sendiri berlangsung selama kira-kira 6 bulan (Mei s/d Oktober 1906) dengan 6 kali pertempuran dan 1 kali pengepungan selama kira-kira 4 bulan (Juli s/d Oktober 1906). Pertempuran tanggal 1 Juni 1906 untuk mempetahankan Benteng Buntu Asu dari serangan Angkatan Perang Belanda di bawah Komando Kapten De Last yang dilakukan dalam 3 gelombang semuanya kandas di muka Benteng dengan menelan banyak korban, Angkatan Perang Belanda dipukul mundur dan dihalau kembali ke Rantepao. Pongtiku adalah penantang utama datangnya penjajah Belanda di Tana Toraja dan Toraja Utara dan dengan gigih dan gagah perkasa dengan segala kemampuan yang ada padanya mengobarkan perang lebih setahun lamanya, tepatnya dari bulan Mei 1906 s/d Juli 1907. Ia bertahan dan menyerang musuhnya dari benteng-benteng yang jumlahnya 9 buah yang telah dipersipakan sejak dini. Perang Pongtiku melawan Belanda bukanlah tindakan spontanitas akan tetapi adalah perang yang direncanakan dan dipersiapkan dengan matang yangn merupakan bagian integral dari perang perlawanan Raja-Raja di Sulawesi Selatan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda disebut sebagai Perang Bone III. Demikian hebatnya pertahanan dan perlawanan Angkatan Perang Pongtiku terhadap gempuran Angkatan Perang Belanda, mengharuskan Letjen Swart yang dijuluki oleh Belanda sebagai Pasifikator Van Aceh (Pengaman Aceh) mengambil Komando pertempuran melawan Angkatan Perang Pongtiku yang bertahan tak terkalahkan dalam Benteng Batu di Baruppu'. Belanda dengan menggunakan taktik seperti taktik yang digunakan terhadap Pangeran Diponegoro, Pongtiku menerima Case Fire, untuk mengadakan perundingan perdamaian dengan Belanda. Kesempatan ini digunakan oleh Belanda untuk membatasi gerak Pongtiku, tetapi Pongtiku menggunakan pula kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan Upacara Pemakaman kedua orang tuanya yang wafat dalam Benteng menurut adat Toraja. Sehari sebelum selesai upacara pemakaman kedua orang tuanya, Pongtiku dengan sejumlah pasukan kembali ke medan juang bergabung dengan teman-teman seperjuangannya di Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua' Saruran dan Benteng Alla' dalam Wilayah Enrekang. Setelah Benteng Ambeso dan Benteng Alla' jatuh ke tangan Belanda pada Bulan Januari 1907 Pongtiku tidak tertawan, ia berhasil lolos bersama pasukannya kembali ke wilayah kekuasaannya. Dengan petunjuk mata-mata Belanda ia tertangkap lalu di bawa ke Rantepao. Tanggal 10 Juli 1907, ia dieksekusi dan gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di pinggir Sungai Sa'dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki' Rantepao. Meneliti sejarah perjuangan bangsa melawan Pemerintah Hindia Belanda dapatlah diketahui bahwa Pongtiku adalah penantang terakhir yang mengobarkan perang klasik terakhir tahun 1906-1907 di Wilayah Sulawesi Selatan sesuai sumpah yang diucapkannya "Iatu Tolino Pissanri Didadian sia Pissanri Mate Iamoto Randuk Domai Tampak Beluakku Sae Rokko Pala' Lette'ku Nokana' Lanaparenta Tumata Mabusa" (Manusia hanya sekali dilahirkan dan mati, dari ujung rambut sampai telapak kakiku saya tidak akan rela diperintah oleh Belanda) Pengorbanan tidak sia-sia karena setahun setelah Pongtiku gugur tahun 1907. Pada tahun 1908 bangkitlah perlawanan modern yang dimulai dengan gerakan Budi Utomo atau Kebangkitan Nasional yang disusul dengan perlawanan-perlawanan dari pahlawan dan pejuang-pejuang bangsa yang mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. |
Sabtu, 08 Juni 2013
PERJUANGAN PONGTIKU
CUT MEUTIA PART IV
Cut Meutia Memimpin Pergerakan
Walaupun Pang Nanggroe suaminya sekaligus
pemimpin perlawanan telah syahid menghadap Ilahi Cut Meutia tetap melanjutkan
perjuangan dan perlawanan bersenjata bersama-sama sahabat setia pejuang
muslimin dan terus bergerilya naik gunung turun gunung melakukan penyerangan
dan penyergapan. Mereka tidak mau menyerah kepada Belanda. Untuk melaksanakan
perjuangan yang berlanjut tersebut diperlukan seorang pemimpin yang tangguh
dipercayai, serta disegani oleh lawan maupun kawan oleh karena itu, atas
kesepakatan dan saran pejuang muslim pimpinan pergerakan diserahkan kepadaCut
Meutia. Jiwa semangat pejuang dan kearifannya muncul tatkala ia diminta untuk
memimpin pergerakan dengan rasa haru dan senyum, Cut Meutia memberikan
tanggapannya sebagai berikut :
Kalau demikian maka sekarang aku terangkan pada saudara sekalian dan Teungku-Teungku
yang hadir pada hari ini dan kepada anakku Raja Sabi, bahwa, penyerahan
pimpinan itu aku terima dengan penuh tanggungjawab pada agama dan negeri kita,
akan tetapi bila pimpinanku
kurang sempurna supaya cepat ditegur, sehingga segala urusan dapat berjalan
lancar dan baik dan supaya kita semua seiya sekata, bersatu hati dan tidak
terpecah belah. Janganlah dipandang kepadaku dan anakku yang masih kecil ini akan tetapi
pandanglah kepada ayahnya Teuku Chik Tunong dan kepada pang Nanggroe yang baru
saja gugur meninggalkan kita sekalian. Sekali lagi aku jelaskan bahwa aku
seorang wanita yang kurang daya dan tenaga. Bila anakku ini telah dewasa dan
sudah dapat memimpin perang, maka akan kuserahkan pipimpinan perang Sabil
kepadanya dari itu peliharalah, didiklah, dan jagalah dia dengan baik-baik,
semoga lekas besarlah dia untuk memimpin perang melawan kaphe Belanda pada masa
mendatang. (Ismail Yakub, 1979: 68/69).
Saat Cut Meutia berbicara itu maka menangislah terisak-
terisak, akhirnya Cut Meutia mengakhiri kata-katanya kepada Tuhan juga kita
menyerahkan diri, Dialah tempat kita meminta tolong, tempat memohon rahmat dan
hidayahnya amin.Atas anjuran beberapa sahabat setianya, maka markas perjuangan
dipindahkan dan bergabung dengan para pejuang lainnya di daerah Gayo dan Alas
bersama-sama dengan pasukan muslimin di bawah pimpinan Teuku Seupot Mata.
Pada tanggal 22 Oktober 1910 pasukan Belanda mengejar
pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Besoknya
(tanggal 23 Oktober 1910) pengejaran diteruskan kembali, mereka mengejar cepat
pasukan Cut Meutia yang berada dipengkolan Krueng Peutoe menuju arah Bukit
Paya. Perjuangan Cut Meutia beserta muslim lainnya semakin sulit, basis
perjuangan terus berpindah-pindah dari daerah ke daerah yang bergunung dan hutan
belantara. Mereka terus dikejar tempat persembunyiannya dapat diketahui berdasarkan informasi
para pengkhianat bangsa. Selain itu mereka tidak mampu secara sporadis
menantang adu perang dengan pasukan Belanda karena jumlah pasukan pejuang
muslim semakin kecil dan perbekalan, serta amunisi sangat terbatas. Akan tetapi
perlu dicatat bahwa semangat persatuan dan kebersamaan yang mereka tunjukkan
cukup memberikan andil dalam pergerakan mereka. Semangat pantang menyerah lebih
baik mati syahid dari pada turun gunung untuk menyerah membuat pengejaran oleh
pasukan Belanda cukup melelahkan dan merisaukan karena pasukan Belanda tidak
dapat menemukan dan menghancurkan mereka.
Pengejaran demi pengejaran yang dilalakukan pasukan Belanda
berakhirlah sudah, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1910 pasukan Belanda
bergerak kearah Krueng Peutoe yang airnya dangkal terjadilah bentrokan dahsyat.
Pasukan Cut Meutia tidak mungkin mundur
lagi dengan semangat jihat Fisabilillah mereka maju menentang pasukan Belanda
dengan keyakinan yang satu lebih baik mati syahid dari pada menyerah kaphe
Belanda penjajah tanah air tercinta. Oleh karena itu posisi Cut Muetia yang
kurang menguntungkan dengan sikap gagah berani dia tampil ke depan dengan
rencong terhunus maju bertempur di sertai dengan semangat dan jiwa kesatria.
Sebagai srikandi Aceh ia maju seperti banteng terluka dengan pekikan Allahu
Akbar beliau iringi penyerangan.
Dalam pertempuran inilah Cut Meutia syahid sebagai kesuma
bangsa bersamasama dengan beberapa pejuang muslimin lainnya serta para ulama
seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh.
Menjelang ajalnya Cut Meutia sempat membisikan kepada
sahabat dekatnya yang bernama Teungku Syech Buwah, supaya jangan bertempur
lagi, strategi kalian adalah mundur dan mengatur siasat perjuangan selanjutnya
karena posisi kita terlalu sulit jangan korbankan perjuangan kini, tetapi hari
esok masih panjang dan berguna untuk perjuangan. Setanjutnya ia berkata
selamatkan anakku Raja Sabi. Carilah anakku dimana sekarang, tolong pelihara
dia baik-baik, mungkin ajalku akan datang di tempat ini, …. Aku titipkan anakku
dalam tanganmu semoga Tuhan menyelamatkannya. (lsmail Yakub, 1979: 70).
Demikian sejarah kehidupan srikandi Aceh Cut Meutia catatan
sejarah kehidupannya ini hanya sebahagian kecil diungkapkan karena sebenarnya
riwayat hidupnya sangatlah panjang. Sebagai pelopor pergerakan untuk
menghancurkan penjajahan Belanda di tanah rencong tercinta, ia diakui oleh
kawan dan lawan dia bukan saja sebagai pengatur siasat dan strategi yang paling
jitu ia juga mampu tampil sendiri sebagai pimpinan perang. Sebagai ibu rumah
tangga iapun merupakan seorang wanita jujur bertanggungjawab besar kepada
pendidikan dan kemajuan walaupun dia bergerilya di hutan belantara ia tetap
menanamkan ajaran ketauhidan di dalam perjuangan menghancurkan kaphe Belanda
sehingga kelak anaknya akan mampu juga mewarisi nilai perjuangan orang
tuanya.Rentang sejarah perjuangan dan kehidupannya telah lestari bagi jiwa
bangsa kita pada umumnya dan masyarakat Aceh khususnya. Oleh karena itu patut
kita camkan akan keteladanan dan pengabdian kepada nusa bangsa dan agama dengan
selalu menghayati dan ikut memberdayakan dalam kehidupan, mengisi kemerdekaan
bangsa kita dan tanah rencong tercinta, sehingga cita-citanya akan abadi
selalu. Apa yang dapat kita banggakan kalau kita hanya berdiam diri dengan
tidak mau perduli terhadap kemajuan yang telah kita peroleh dan akan berlanjut
kelak.
CUT MEUTIA PART III
Perjuangan Cut Meutia bersama Pang
Nanggroe
Dalam fase berikutnya, perjuangan Cut Meutia
dalam menentang penjajahan Belanda tidak terputus dan terus berlanjut. Sesuai
dengan amanah dari suaminya Teuku Chik Tunong, Perjuangan terus dilanjutkan dan
ia bersedia menerima Pang Nanggroe sebagai suami dan sekaligus sebagai
pendamping dalam perjuangan. Kemudian, markas basis perjuangan mereka kini
berada di Buket Bruek Ja. Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan
patroli Marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Untuk perbekalan
perang diadakan hubungan dengan rakyat di kampung-kampung pada malam hari.
Senapan, kelewang dibeli dari orang yang dapat merebutnya dari Belanda dengan
harga yang tinggi sehingga dengan penuh semangat perjuangan Pang Nanggroe
bersama dengan istrinya Cut Meutia menghadang patroli Marsose Belanda di setiap
kesempatan. Penyerangan yang dilakukan oleh Pang Nanggroe-Cut Meutia dimulai
dan hulu Krueng Jambo Aye suatu tempat pertahanan yang sangat strategis karena
daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang banyak tempat tempat
persembunyian pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia sering melakukan penyerangan ke
tangsi-tangsi dan bivak pasukan Belanda dimana banyak terdapat para pejuang
muslimin yang ditahan sekaligus membebaskan mereka dengan demikian
penyerangan-penyerangan itu membuat pasukan Belanda marah dan gusar.
Pada tanggal 6 Mei 1907 pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia
melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak-bivak yang mengawal para
pekerja kereta api. Dan hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan
luka-luka bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru
serta amunisi (H.C. Zentgraaff, 1983:160); Muhammad Said; 1983:269.
Pada tanggal 15 Juni 1907 pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia
menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda
mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan 8 orang luka-luka
dan kehilangan 1 pucuk senjata (H.C. Zentgraaff, 1983: 160).
Taktik perjuangan perlawanan serta strategi penyerbuan yang
dilakukan Pang Nanggroe-Cut Meutia selanjutnya adalah dengan taktik tipu daya
dan menyebarkan isu. Isu yang disebarkan seolah-olah pasukan muslimin akan
mengadakan pesta atau (kanduri) yaitu tepapnya disebelah selatan Matang Raya. Sebagai tempat jebakan dipilih adalah
sebuah rumah tua yang direkayasa sedemikian rupa di mana setiap tiang rumah
tersebut telah dipotong habis dengan gergaji. Agar bangunan itu nampak berdiri
kokoh maka setiap tiang diikat dengan tali rotan dan dikaitkan pada pohon kayu
terdekat. Setelah mendengar informasi tersebut, (sesuai dengan jadwal yang
ditetapkan) pasukan Belanda melakukan gerakan untuk penyergapan, mereka
memasuki rumah yang telah direkayasa tanpa ada rasa curiga apalagi nampak dalam
ruangan tersebut berisikan makanan yang akan menyiurkan. Setelah pasukan
Belanda berada di dalam rumah maka pasukan muslimin yang bersembunyi di
belakang rumah yang penuh semak belukar langsung memotong tali yang
dipersiapkan untuk menahan tiang-tiang rumah. Akhirnya robohlah tiang-tiang
yang dibangun berikut dengan bangunan menimpa dan menghimpit pasukan Belanda
yang ada di dalamnya. Selanjutnya pasukan muslimin dengan pedang rencong
terhunus menyerbu sebagian pasukan Belanda yang masih berada di luar. Dengan
diiringi pekikan Allahu Akbar, mate kaphe, pasukan Belanda menjadi panik dengan
mudah pasukan muslimin mengalahkan mereka dan pada peristiwa ini pasukan
Belanda banyak yang mati dan terluka.
Pergerakan dan perlawanan pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia
terus berlanjut dan semakin dahsyat walaupun jumlah pasukan Belanda semakin
ditingkatkan dan ditambah baik dari personil maupun persenjataan serta
pembekalan akan tetapi semangat Jihat Fisabilillah pasukan muslimin semakin
menggebu-gebu. Perjuangan mereka secara ikhlas untuk mewujudkan kebebasan kaphe
Belanda serta di dorong oleh keyakinan mendapat ganjaran dan balasan dari Kalik
pencipta alam di akhir masa kelak. Penyerbuan dan pencegatan yang dilakukan
pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia adalah penghancuran jalur logistik pasukan
Belanda yang dikirim dari Lhoksukon menuju Panton
Labu pada jalur kereta api. Pelaksanaannya adalah dengan
membongkar rel-rel kereta api di depan tanjakan yang bertujuan untuk menghambat
jalannya kereta api serta mempermudah pasukan muslimin menyerbu dan merebut
semua perbekalan yang berada di dalamnya. Biasanya Penyerbuan ini dilakukan
dari beberapa jurusan. Penyerbuan dan penyergapan yang dilakukan oleh Pang
Nanggroe-Cut Meutia dengan cara memakai perahu-perahu, menyerang dari laut ke
lokasi gudang perbekalan yang berada di Idi untuk merampas, senjata dan
amunisi.
Di pertengahan tahun 1909 pihak Belanda atas petunjuk orang
kampung yang dijadikan tawanan diketahui bahwa pusat pertahanan pasukan Pang
Nanggroe-Cut Meutia. Pada subuh dini hari terjadilah bentrokan senjata yang
hebat antara pejuang muslimin dengan pasukan Belanda serta pertarungan jarak
dekat dengan senjata pedang dan rencong. Atas berkat pertolongan Allah dan
kegigihan dalam perjuangan, maka dalam pertempuran tersebut banyak pasukan
Belanda yang mati. Untuk mengelabui Belanda atas saran dan petunjuk para
pejuang, maka pusat dan basis pertahanan dipindahkan dan berada pada daerah
yang berbeda-beda setiap waktu, sedangkan taktik penyerbuan dan pencegatan
tetap terus dilaksanakan dengan sistim bergerilya.
Dalam bulan Maret 1910 di rawa-rawa Jambo Aye, terjadi lagi
bentrokan dan pertempuran senjata yang sengit, pasukan muslimin melakukan
taktik serang dan mundur. Pasukan terus bepindah-pindah sampai ke daerah
Peutoe, menyebabkan pasukan Belanda sulit untuk melacak posisi pasukan
muslimin. Penyerangan pasukan yang sedang penasaran terus dilakukan dan pada
tanggal 30 Juli 1910 terjadi bentrokan senjata di daerah Bukit Hague dan Paya
Surien.
Selanjutnya pada bulan Agustus 1910 terjadi lagi penyerbuan
pasukan Belanda di Matang Raya, dalam bentrokan senjata ini, banyak pejuang
muslim teman setia Pang Nanggroe-Cut Meutia dan seorang ulamasyahid, sedangkan
Pang Nanggroe-Cut Meutia, anaknya Teuku Raja Sabi, dan beberapa pejuang
muslimin selamat dan dapat menghindari diri dari kepungan Pasukan Belanda.
Hari kelabu dan sedih akhirnya datang juga bagi Pang
Nanggroe, yaitu pada tanggal 25 September 1910 di daerah Rawa dekat Paya Cicem,
tepatnya di Buket Hague terjadi penyergapan dan pertempuran dahsyat, pasukan
Pang Nanggroe-Cut Meutia mengalami pukulan hebat atas penyerangan yang
dilakukan dengan gencar oleh pihak Belanda. Pada pertempuran inilah Pang
Nanggroe syahid karena terkena tembakan peluru Belanda sedangkan Cut Meutia dan
beberapa pejuang muslimin dapat melepaskan diri dari kepungan serta anaknya
Teuku Raja Sabi juga dapat diselamatkan. Jenazah Pang Nanggroe dimakamkan di samping
Masjid Lhoksukon. Sebelum meninggal dalam keadaan berlumuran darah Pang
Nanggroe memanggil Teuku Raja Sabi yang berada di sampingnya seraya berkata,
“Ambillah rencong yang berada di pinggangku serta pengikat kepalaku larilah
cepat-cepat mencari ibumu (Cut Meutia), sampaikanlah salam perjuanganku dan
teruskanlah perang Sabil, semoga kita akan bertemu nanti di akhirat. (Ismail
Yakub; 1979:62).
CUT MEUTIA PART II
Perjuangan Cut Meutia bersama Teuku Chik
Tunong
Awal pergerakannya di mulai pada tahun 1901 dengan basis
perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara sekarang) di bawah
komando perang Teuku Chik Muhammad atau Teuku Chik Tunong (suaminya sendiri),
Cut Meutia berjuang bersama-sama, bahu-membahu dengan suami dan para pejuang
lainnya. Ia bukan saja sebagai ibu rumah tangga tapi ia juga bertindak sebagai
pengatur strategi pertempuran sehingga taktiknya tersebut dapat memporak
porandakan pertahanan pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan merampas
senjata serta amunisi mereka yang akan digunakan untuk memperkuat persenjataan
pejuang muslimin.
Teuku Chik Tunong dan Cut Meutia di dalam pergerakannya
selalu menggunakan taktik perang gerilya dan spionase yaitu suatu taktik serang
dan mundur serta menggunakan prajurit memata-matai gerak gerik pasukan lawan
terutama rencanarencana patroli dan pencegatan. Taktik seperti ini cukup
membuat pasukan Belanda kewalahan dan menjengkelkan mereka.
Taktik Spionase dilakukan oleh para spion dari pasukan
pejuang yang menyamar sebagai penduduk (ureung gampong) disebarluaskan
di pelosok-pelosok negeri, dengan keluguannya para spion selalu mendapatkan
informasi berharga dan tepat sehingga daerah serta lokasi patroli yang akan
dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui. Dengan cara seperti ini pasukan
muslimin dapat mengatur strategi dan rencana pencegatan untuk melumpuhkan
pasukan musuh tersebut karena posisi strategis pada jalur yang akan dilalui
sudah dapat dikuasai. Pencegatan dan penyerangan oleh pasukan muslimin
dilakukan secara tiba-tiba sehingga pasukan Belanda tidak dapat berbuat apaapa
dan dengan mudah pasukan muslimin menghacurkan dan merampas semua senjata dan
perbekalan.
Dalam bulan Juni 1902, berdasarkan informasi dari spionnya
bahwa pasukan Belanda akan melakukan operasi dan patroli dengan kekuatan 30
orang personil di bawah pimpinan sersan Van Steijn Parve. Di dalam perlawanan
tersebut pasukan Belanda mengalami kekalahan yang cukup besar yaitu dengan matinya
pimpinan pasukan dan 8 orang serdadu serta banyak anggota pasukan yang cidera
berat dan ringan, sedangkan di pihak pejuang muslimin syahid 10 orang (H.C.
Zentgraaff, 1983: 152).
Kemudian pada bulan Agustus 1902 pasukan Chik Tunong dan
Cut Meutia mencegat pasukan Belanda yang berpatroli di daerah Simpang Ulim
Blang Nie. Strategi yang dipakai oleh pasukan muslimin untuk mencegat pasukan
Belanda adalah dengan menempatkan pasukannya di daerah yang beralang-alang
tinggi dekat jalan tidak jauh dari Meunasah Jeuro sehingga memudahkan para
pejuang mengintai dan sekaligus melakukan penyerangan secara tiba-tiba. Di
dalam penyerangan ini pasukan Belanda lumpuh total dan para pejuang muslimin
dapat merebut 5 pucuk senapan (Muhammad Said, 1985: 265).
Pergerakan dan penyerbuan pasukan Teuku Chik Tunong dan Cut
Meutia semakin ditingkatkan. Salah satu taktik lain yang dijalankan adalah
taktik tipu daya dan taktik jebakan. Pada bulan Nopember 1902 diisukan oleh
salah seorang pejuang muslimin (dalam hal ini Pang Gadeng) bahwa pasukan Teuku
Chik Tunong-Cut Meutia beserta pasukan muslimin lainnya akan mengadakan kenduri
yang bertempat di Gampong Matang Rayeuk di seberang sungai Sampoiniet.
Pemilihan lokasi-lokasi jebakan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa
satu-satunya jalan yang akan dilalui menuju tempat tersebut adalah dengan
memakai perahu jebakan ini akan mudah dilaksankan. Isu yang disebarluaskan
tersebut ternyata mendapat respon serius dari pimpinan pasukan Belanda di desa
Matang Rayeuk. Di bawah pimpinan Letnan RDP De Cok bersama dengan 45 orang
personilnya, mereka melakukan perjalanan jalan menuju tempat yang
diinformasikan tersebut. Setibanya pasukan di tepi sungai telah ada dua orang
pendayung perahu (yaitu pejuang muslimin yang menyamar sebagai pengail) tanpa ada
kecurigaan sedikitpun pasukan Belanda memerintahkan kepada pendayung tersebut
untuk segera menyeberangkan Pasukan Belanda.
Sesuai dengan rencana yang telah disusun dan diatur oleh
pejuang muslimin bahwa di tengah sungai pendayung tersebut melakukan gerakan
untuk membalikan perahu. Dalam suasana malam gelap gulita kacaulah pasukan
Belanda dan dengan tibatiba muncul pasukan Teuku Chik Tunong-Cut Meutia
melakukan penyerangan dengan tembakan-tembakan gencar dan dengan pedang serta
rencong terhunus melakukan gerakan perkelahian jarak dekat sehingga pasukan
Belanda kacau dan punah di saat pertempuran ini pasukan De Cok bersama dengan
28 prajuritnya mati sedangkan pasukan muslimin dalam penyerangan ini dapat
memperoleh 42 pucuk senapan (Muhammad Said, 1983: 265; H.C. Zentgraaff, 1983: 153).
Selain dari itu pasukan Chik Tunong-Cut Meutia sering
melakukan gerakan sabotase-sabotase dijalan yang dilalui kereta api,
penghancuran hubungan telepon sehingga jalur perhubungan untuk mengangkut
logistik pasukan Belanda antara bivakbivak seperti di Lhoksukon dengan
pertahanan di Kota Lhokseumawe menjadi sering terputus dan terganggu. Hal ini
dilakukan pejuang mnslimin sebagai balasan dendam atas peristiwa menyedihkan di
Blang Paya Itiek (daerah Samakuruk di selatan gedung) yaitu suatu peristiwa
yang memilukan dan tragis sebagai akibat adanya pengkhianatan oleh Pang Ansari
(dari Blang Nie) dimana pasukan Belanda menyerang pos pertahanan pasukan Sultan
Alaidin Mahmud Daudsyah dan pengikutnya pada peristiwa ini para pejuang muslimin
banyak yang syahid sebagai kesuma bangsa, namun Sultan dapat melepaskan diri
dari cengkraman musuh dan mengundurkan diri ke Meunasah Nibong Payakamuek.
Selanjutnya pada tanggal 9 Januari 1903 Sultan Mahmud
Daudsyah bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja
Keumala dan pemuka kerajaan lainnya telah menghentikan perlawanan dan
menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda.
Memperhatikan turunnya sultan dan penyerangan perlawanan
atas pasukan Belanda tersebut dan menerima surat-surat serta atas anjuran para
sahabat seperjuangan, Teuku Chik Tunong memahami kesemuanya itu. Atas
kesepakatan dirinya dengan istrinya Cut Meutia pada tanggal 5 Oktober 1903
Teuku Chik Muhammad-Cut Meutia beserta dengan pengikutnya turun dari gunung.
Atas persetujuan komandan detasemen Belanda di Lhokseumawe (HNA. Swart) Teuku
Chik Muhammad-Cut Muetia dan Pasukannya dibenarkan menetap di Keureutoe
tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.
Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad-Cut Meutia adalah
sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon
(tepatnya tanggal 26 Januari 1905). Peristiwa tersebut diawali dengan
terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah
Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang
sangat besar dan berat bagi pemerintah Belanda. Di dalam penyelidikannya serta
berdasarkan informasi yang diterima dan mata-mata Belanda bahwa Teuku Chik Tunong
turut terlibat hal ini merupakan fitnah semata oleh karena itu pemerintah
Belanda menangkapnya dan di dalam peradilan Militer di Lhokseumawe di putuskan
Teuku Chik Tunong Mendapat hukuman gantung dan akhirnya berubah menjadi hukuman
tembak mati.
Pelaksanaan hukuman tembak mati dilaksanakan pada bulan
Maret 1905 di tepi pantai Lhokseumawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong,
tidak jauh dan kota Lhokseumawe. Sebelum hukuman tembak dilaksanakan ia dapat
bertemu dengan salah seorang staf setia dalam perjuangan, yaitu Pang Nanggroe.
Seorang panglima muslimin yang juga teman yang paling dekat dan dipercaya, kata
terakhir yang diucapkan kepada Pang Nanggroe adalah “Sudah tiba masanya aku ini
tidak terlepas lagi dari tuntutan hukuman. Pada saatnya hari perpisahan kita
sudah dekat, oleh sebab itu, peliharalah anakku, aku izinkan istriku kawin
dengan engkau dan teruskanlah perjuangan” (lsmail Yakub, 1979: 49).
Langganan:
Komentar (Atom)