Sabtu, 08 Juni 2013

PERJUANGAN PONGTIKU

Pongtiku lahir sebagai anak bungsu dari pasangan suami istri Karaeng dan Le'bok pada petengahan Abad ke XIX (1846) di Tondon Pangala'. Karaeng adalah penguasa adat Pangala' dan sekitarnya. Karena kemampuan dan kepemimpinan Pongtiku yang menonjol, maka sekalipun ia anak bungsu dialah yang menggantikan ayahandanya sebagai penguasa tatkala ayahnya sudah tua. Sebelum Angkatan Perang Belanda datang di Tana Toraja, orang Toraja telah mempunyai hubungan dagang dengan orang Bugis.

Toraja Selatan dan Toraja Barat menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito sedang Toraja Utara mitra dagangnya adalah kerajaan Bone dan Luwu. Pimpinan orang Bugis dan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito adalah Petta Manyoro Lolo (Panglima Angkatan Perang Kerajaan Sidenreng) yang kemudian diketahui bernama Petta Serang, anak dari Raja Sidenreng, sedang pimpinan orang Bugis dari Kerajaan Bone dan Luwu adalah Petta Punggawa (Panglima tertinggi Angkatan Perang Bone, yang juga adalah Putra mahkota dengan nama Andi Baso' Abdul Hamid)

Melalui hubungan dagang antara orang Bugis dan orang Toraja tersebut pemimpin-pemimpin Toraja dapat mengetahui bahwa akan pecah perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak mau lagi mengakui Perjanjian Bungaya yang mengatur hubungan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang sangat merugikan.

Untuk mengantisipasi perang yang akan pecah dalam waktu tidak lama penguasa-penguasa Toraja mengadakan musyawarah di Tongkonan Buntu Pune Kesu' (Kediaman Pongmaramba') dan mencapai kesepakatan antara lain :

Menggalang persatuan antar penguasa dengan menghilangkan semua benih-benih perpecahan dan mengangkat Pongtiku Panglima Perang sedang Pongmaramba' dan penguasa-penguasa adat lainnya sebagai Panglima Pasukan Penghancur. Kesepakatan mereka didasari motto : "Misa' Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate".

Selesai musyawarah, Pongtiku kembali ke daerahnya untuk mempersiapkan dan menyiagakan benteng-bentengnya sebanyak 9 (Sembilan) buah menghadapi perang.Pada bulan Maret 1906, pasukan Angkatan Perang Belanda di bawah Pimpinan Kapten Killian dengan tujuan melucuti  dan mengumpulkan senjata api dari semua penguasa Toraja. Komandan pasukan Belanda memerintahkan Pongtiku datang menghadap dan menyerahkan semua senjata yang dimilikinya. Pongtiku menolak, malah ia menyiagakan semua benteng-bentengnya menghadapi perang.

Perang perlawanan Pongtiku dalam daerahnya sendiri berlangsung selama kira-kira 6 bulan (Mei s/d Oktober 1906) dengan 6 kali pertempuran dan 1 kali pengepungan selama kira-kira 4 bulan (Juli s/d Oktober 1906). Pertempuran tanggal 1 Juni 1906 untuk mempetahankan Benteng Buntu Asu dari serangan Angkatan Perang Belanda di bawah Komando Kapten De Last yang dilakukan dalam 3 gelombang semuanya kandas di muka Benteng dengan menelan banyak korban, Angkatan Perang Belanda dipukul mundur dan dihalau kembali ke Rantepao.

Pongtiku adalah penantang utama datangnya penjajah Belanda di Tana Toraja dan Toraja Utara dan dengan gigih dan gagah perkasa dengan segala kemampuan yang ada padanya mengobarkan perang lebih setahun lamanya, tepatnya dari bulan Mei 1906 s/d Juli 1907.  Ia bertahan dan menyerang musuhnya dari benteng-benteng yang jumlahnya 9 buah yang telah dipersipakan sejak dini. Perang Pongtiku melawan Belanda bukanlah tindakan spontanitas akan tetapi adalah perang yang direncanakan dan dipersiapkan dengan matang yangn merupakan bagian integral dari perang perlawanan Raja-Raja di Sulawesi Selatan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda disebut sebagai Perang Bone III. Demikian hebatnya pertahanan dan perlawanan Angkatan Perang Pongtiku terhadap gempuran Angkatan Perang Belanda, mengharuskan Letjen Swart yang dijuluki oleh Belanda sebagai Pasifikator Van Aceh (Pengaman Aceh) mengambil Komando pertempuran melawan Angkatan Perang Pongtiku yang bertahan tak terkalahkan dalam Benteng Batu di Baruppu'.

Belanda dengan menggunakan taktik seperti taktik yang digunakan terhadap Pangeran Diponegoro, Pongtiku menerima Case Fire, untuk mengadakan perundingan perdamaian dengan Belanda. Kesempatan ini digunakan oleh Belanda untuk membatasi gerak Pongtiku, tetapi Pongtiku menggunakan pula kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan Upacara Pemakaman kedua orang tuanya yang wafat dalam Benteng menurut adat Toraja. Sehari sebelum selesai upacara pemakaman kedua orang tuanya, Pongtiku dengan sejumlah pasukan kembali ke medan juang bergabung dengan teman-teman seperjuangannya di Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua' Saruran dan Benteng Alla' dalam Wilayah Enrekang.

Setelah Benteng Ambeso dan Benteng Alla' jatuh ke tangan Belanda pada Bulan Januari 1907 Pongtiku tidak tertawan, ia berhasil lolos bersama pasukannya kembali ke wilayah kekuasaannya. Dengan petunjuk mata-mata Belanda ia tertangkap lalu di bawa ke Rantepao. Tanggal 10 Juli 1907, ia dieksekusi dan gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di pinggir Sungai Sa'dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki' Rantepao.

Meneliti sejarah perjuangan bangsa melawan Pemerintah Hindia Belanda dapatlah diketahui bahwa Pongtiku adalah penantang terakhir yang mengobarkan perang klasik terakhir tahun 1906-1907 di Wilayah Sulawesi Selatan sesuai sumpah yang diucapkannya "Iatu Tolino Pissanri Didadian sia Pissanri Mate Iamoto Randuk Domai Tampak Beluakku Sae Rokko Pala' Lette'ku Nokana' Lanaparenta Tumata Mabusa" (Manusia hanya sekali dilahirkan dan mati, dari ujung rambut sampai telapak kakiku saya tidak akan rela diperintah oleh Belanda)

Pengorbanan tidak sia-sia karena setahun setelah Pongtiku gugur tahun 1907. Pada tahun 1908 bangkitlah perlawanan modern yang dimulai dengan gerakan Budi Utomo atau Kebangkitan Nasional yang disusul dengan perlawanan-perlawanan dari pahlawan dan pejuang-pejuang bangsa yang mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

CUT MEUTIA PART IV



Cut Meutia Memimpin Pergerakan 
Walaupun Pang Nanggroe suaminya sekaligus pemimpin perlawanan telah syahid menghadap Ilahi Cut Meutia tetap melanjutkan perjuangan dan perlawanan bersenjata bersama-sama sahabat setia pejuang muslimin dan terus bergerilya naik gunung turun gunung melakukan penyerangan dan penyergapan. Mereka tidak mau menyerah kepada Belanda. Untuk melaksanakan perjuangan yang berlanjut tersebut diperlukan seorang pemimpin yang tangguh dipercayai, serta disegani oleh lawan maupun kawan oleh karena itu, atas kesepakatan dan saran pejuang muslim pimpinan pergerakan diserahkan kepadaCut Meutia. Jiwa semangat pejuang dan kearifannya muncul tatkala ia diminta untuk memimpin pergerakan dengan rasa haru dan senyum, Cut Meutia memberikan tanggapannya sebagai berikut :
Kalau demikian maka sekarang aku terangkan pada saudara sekalian dan Teungku-Teungku yang hadir pada hari ini dan kepada anakku Raja Sabi, bahwa, penyerahan pimpinan itu aku terima dengan penuh tanggungjawab pada agama dan negeri kita, akan tetapi bila pimpinanku kurang sempurna supaya cepat ditegur, sehingga segala urusan dapat berjalan lancar dan baik dan supaya kita semua seiya sekata, bersatu hati dan tidak terpecah belah. Janganlah dipandang kepadaku dan anakku yang masih kecil ini akan tetapi pandanglah kepada ayahnya Teuku Chik Tunong dan kepada pang Nanggroe yang baru saja gugur meninggalkan kita sekalian. Sekali lagi aku jelaskan bahwa aku seorang wanita yang kurang daya dan tenaga. Bila anakku ini telah dewasa dan sudah dapat memimpin perang, maka akan kuserahkan pipimpinan perang Sabil kepadanya dari itu peliharalah, didiklah, dan jagalah dia dengan baik-baik, semoga lekas besarlah dia untuk memimpin perang melawan kaphe Belanda pada masa mendatang. (Ismail Yakub, 1979: 68/69).
Saat Cut Meutia berbicara itu maka menangislah terisak- terisak, akhirnya Cut Meutia mengakhiri kata-katanya kepada Tuhan juga kita menyerahkan diri, Dialah tempat kita meminta tolong, tempat memohon rahmat dan hidayahnya amin.Atas anjuran beberapa sahabat setianya, maka markas perjuangan dipindahkan dan bergabung dengan para pejuang lainnya di daerah Gayo dan Alas bersama-sama dengan pasukan muslimin di bawah pimpinan Teuku Seupot Mata.
Pada tanggal 22 Oktober 1910 pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Besoknya (tanggal 23 Oktober 1910) pengejaran diteruskan kembali, mereka mengejar cepat pasukan Cut Meutia yang berada dipengkolan Krueng Peutoe menuju arah Bukit Paya. Perjuangan Cut Meutia beserta muslim lainnya semakin sulit, basis perjuangan terus berpindah-pindah dari daerah ke daerah yang bergunung dan hutan belantara. Mereka terus dikejar tempat persembunyiannya dapat diketahui berdasarkan informasi para pengkhianat bangsa. Selain itu mereka tidak mampu secara sporadis menantang adu perang dengan pasukan Belanda karena jumlah pasukan pejuang muslim semakin kecil dan perbekalan, serta amunisi sangat terbatas. Akan tetapi perlu dicatat bahwa semangat persatuan dan kebersamaan yang mereka tunjukkan cukup memberikan andil dalam pergerakan mereka. Semangat pantang menyerah lebih baik mati syahid dari pada turun gunung untuk menyerah membuat pengejaran oleh pasukan Belanda cukup melelahkan dan merisaukan karena pasukan Belanda tidak dapat menemukan dan menghancurkan mereka.
Pengejaran demi pengejaran yang dilalakukan pasukan Belanda berakhirlah sudah, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1910 pasukan Belanda bergerak kearah Krueng Peutoe yang airnya dangkal terjadilah bentrokan dahsyat. Pasukan Cut Meutia tidak mungkin mundur lagi dengan semangat jihat Fisabilillah mereka maju menentang pasukan Belanda dengan keyakinan yang satu lebih baik mati syahid dari pada menyerah kaphe Belanda penjajah tanah air tercinta. Oleh karena itu posisi Cut Muetia yang kurang menguntungkan dengan sikap gagah berani dia tampil ke depan dengan rencong terhunus maju bertempur di sertai dengan semangat dan jiwa kesatria. Sebagai srikandi Aceh ia maju seperti banteng terluka dengan pekikan Allahu Akbar beliau iringi penyerangan.
Dalam pertempuran inilah Cut Meutia syahid sebagai kesuma bangsa bersamasama dengan beberapa pejuang muslimin lainnya serta para ulama seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh.
Menjelang ajalnya Cut Meutia sempat membisikan kepada sahabat dekatnya yang bernama Teungku Syech Buwah, supaya jangan bertempur lagi, strategi kalian adalah mundur dan mengatur siasat perjuangan selanjutnya karena posisi kita terlalu sulit jangan korbankan perjuangan kini, tetapi hari esok masih panjang dan berguna untuk perjuangan. Setanjutnya ia berkata selamatkan anakku Raja Sabi. Carilah anakku dimana sekarang, tolong pelihara dia baik-baik, mungkin ajalku akan datang di tempat ini, …. Aku titipkan anakku dalam tanganmu semoga Tuhan menyelamatkannya. (lsmail Yakub, 1979: 70).
Demikian sejarah kehidupan srikandi Aceh Cut Meutia catatan sejarah kehidupannya ini hanya sebahagian kecil diungkapkan karena sebenarnya riwayat hidupnya sangatlah panjang. Sebagai pelopor pergerakan untuk menghancurkan penjajahan Belanda di tanah rencong tercinta, ia diakui oleh kawan dan lawan dia bukan saja sebagai pengatur siasat dan strategi yang paling jitu ia juga mampu tampil sendiri sebagai pimpinan perang. Sebagai ibu rumah tangga iapun merupakan seorang wanita jujur bertanggungjawab besar kepada pendidikan dan kemajuan walaupun dia bergerilya di hutan belantara ia tetap menanamkan ajaran ketauhidan di dalam perjuangan menghancurkan kaphe Belanda sehingga kelak anaknya akan mampu juga mewarisi nilai perjuangan orang tuanya.Rentang sejarah perjuangan dan kehidupannya telah lestari bagi jiwa bangsa kita pada umumnya dan masyarakat Aceh khususnya. Oleh karena itu patut kita camkan akan keteladanan dan pengabdian kepada nusa bangsa dan agama dengan selalu menghayati dan ikut memberdayakan dalam kehidupan, mengisi kemerdekaan bangsa kita dan tanah rencong tercinta, sehingga cita-citanya akan abadi selalu. Apa yang dapat kita banggakan kalau kita hanya berdiam diri dengan tidak mau perduli terhadap kemajuan yang telah kita peroleh dan akan berlanjut kelak.

CUT MEUTIA PART III



Perjuangan Cut Meutia bersama Pang Nanggroe 
Dalam fase berikutnya, perjuangan Cut Meutia dalam menentang penjajahan Belanda tidak terputus dan terus berlanjut. Sesuai dengan amanah dari suaminya Teuku Chik Tunong, Perjuangan terus dilanjutkan dan ia bersedia menerima Pang Nanggroe sebagai suami dan sekaligus sebagai pendamping dalam perjuangan. Kemudian, markas basis perjuangan mereka kini berada di Buket Bruek Ja. Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli Marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Untuk perbekalan perang diadakan hubungan dengan rakyat di kampung-kampung pada malam hari. Senapan, kelewang dibeli dari orang yang dapat merebutnya dari Belanda dengan harga yang tinggi sehingga dengan penuh semangat perjuangan Pang Nanggroe bersama dengan istrinya Cut Meutia menghadang patroli Marsose Belanda di setiap kesempatan. Penyerangan yang dilakukan oleh Pang Nanggroe-Cut Meutia dimulai dan hulu Krueng Jambo Aye suatu tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang banyak tempat tempat persembunyian pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia sering melakukan penyerangan ke tangsi-tangsi dan bivak pasukan Belanda dimana banyak terdapat para pejuang muslimin yang ditahan sekaligus membebaskan mereka dengan demikian penyerangan-penyerangan itu membuat pasukan Belanda marah dan gusar.
Pada tanggal 6 Mei 1907 pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak-bivak yang mengawal para pekerja kereta api. Dan hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi (H.C. Zentgraaff, 1983:160); Muhammad Said; 1983:269.
Pada tanggal 15 Juni 1907 pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan 8 orang luka-luka dan kehilangan 1 pucuk senjata (H.C. Zentgraaff, 1983: 160).
Taktik perjuangan perlawanan serta strategi penyerbuan yang dilakukan Pang Nanggroe-Cut Meutia selanjutnya adalah dengan taktik tipu daya dan menyebarkan isu. Isu yang disebarkan seolah-olah pasukan muslimin akan mengadakan pesta atau (kanduri) yaitu tepapnya disebelah selatan Matang Raya. Sebagai tempat jebakan dipilih adalah sebuah rumah tua yang direkayasa sedemikian rupa di mana setiap tiang rumah tersebut telah dipotong habis dengan gergaji. Agar bangunan itu nampak berdiri kokoh maka setiap tiang diikat dengan tali rotan dan dikaitkan pada pohon kayu terdekat. Setelah mendengar informasi tersebut, (sesuai dengan jadwal yang ditetapkan) pasukan Belanda melakukan gerakan untuk penyergapan, mereka memasuki rumah yang telah direkayasa tanpa ada rasa curiga apalagi nampak dalam ruangan tersebut berisikan makanan yang akan menyiurkan. Setelah pasukan Belanda berada di dalam rumah maka pasukan muslimin yang bersembunyi di belakang rumah yang penuh semak belukar langsung memotong tali yang dipersiapkan untuk menahan tiang-tiang rumah. Akhirnya robohlah tiang-tiang yang dibangun berikut dengan bangunan menimpa dan menghimpit pasukan Belanda yang ada di dalamnya. Selanjutnya pasukan muslimin dengan pedang rencong terhunus menyerbu sebagian pasukan Belanda yang masih berada di luar. Dengan diiringi pekikan Allahu Akbar, mate kaphe, pasukan Belanda menjadi panik dengan mudah pasukan muslimin mengalahkan mereka dan pada peristiwa ini pasukan Belanda banyak yang mati dan terluka.
Pergerakan dan perlawanan pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia terus berlanjut dan semakin dahsyat walaupun jumlah pasukan Belanda semakin ditingkatkan dan ditambah baik dari personil maupun persenjataan serta pembekalan akan tetapi semangat Jihat Fisabilillah pasukan muslimin semakin menggebu-gebu. Perjuangan mereka secara ikhlas untuk mewujudkan kebebasan kaphe Belanda serta di dorong oleh keyakinan mendapat ganjaran dan balasan dari Kalik pencipta alam di akhir masa kelak. Penyerbuan dan pencegatan yang dilakukan pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia adalah penghancuran jalur logistik pasukan Belanda yang dikirim dari Lhoksukon menuju Panton
Labu pada jalur kereta api. Pelaksanaannya adalah dengan membongkar rel-rel kereta api di depan tanjakan yang bertujuan untuk menghambat jalannya kereta api serta mempermudah pasukan muslimin menyerbu dan merebut semua perbekalan yang berada di dalamnya. Biasanya Penyerbuan ini dilakukan dari beberapa jurusan. Penyerbuan dan penyergapan yang dilakukan oleh Pang Nanggroe-Cut Meutia dengan cara memakai perahu-perahu, menyerang dari laut ke lokasi gudang perbekalan yang berada di Idi untuk merampas, senjata dan amunisi.
Di pertengahan tahun 1909 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan diketahui bahwa pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia. Pada subuh dini hari terjadilah bentrokan senjata yang hebat antara pejuang muslimin dengan pasukan Belanda serta pertarungan jarak dekat dengan senjata pedang dan rencong. Atas berkat pertolongan Allah dan kegigihan dalam perjuangan, maka dalam pertempuran tersebut banyak pasukan Belanda yang mati. Untuk mengelabui Belanda atas saran dan petunjuk para pejuang, maka pusat dan basis pertahanan dipindahkan dan berada pada daerah yang berbeda-beda setiap waktu, sedangkan taktik penyerbuan dan pencegatan tetap terus dilaksanakan dengan sistim bergerilya.
Dalam bulan Maret 1910 di rawa-rawa Jambo Aye, terjadi lagi bentrokan dan pertempuran senjata yang sengit, pasukan muslimin melakukan taktik serang dan mundur. Pasukan terus bepindah-pindah sampai ke daerah Peutoe, menyebabkan pasukan Belanda sulit untuk melacak posisi pasukan muslimin. Penyerangan pasukan yang sedang penasaran terus dilakukan dan pada tanggal 30 Juli 1910 terjadi bentrokan senjata di daerah Bukit Hague dan Paya Surien.
Selanjutnya pada bulan Agustus 1910 terjadi lagi penyerbuan pasukan Belanda di Matang Raya, dalam bentrokan senjata ini, banyak pejuang muslim teman setia Pang Nanggroe-Cut Meutia dan seorang ulamasyahid, sedangkan Pang Nanggroe-Cut Meutia, anaknya Teuku Raja Sabi, dan beberapa pejuang muslimin selamat dan dapat menghindari diri dari kepungan Pasukan Belanda.
Hari kelabu dan sedih akhirnya datang juga bagi Pang Nanggroe, yaitu pada tanggal 25 September 1910 di daerah Rawa dekat Paya Cicem, tepatnya di Buket Hague terjadi penyergapan dan pertempuran dahsyat, pasukan Pang Nanggroe-Cut Meutia mengalami pukulan hebat atas penyerangan yang dilakukan dengan gencar oleh pihak Belanda. Pada pertempuran inilah Pang Nanggroe syahid karena terkena tembakan peluru Belanda sedangkan Cut Meutia dan beberapa pejuang muslimin dapat melepaskan diri dari kepungan serta anaknya Teuku Raja Sabi juga dapat diselamatkan. Jenazah Pang Nanggroe dimakamkan di samping Masjid Lhoksukon. Sebelum meninggal dalam keadaan berlumuran darah Pang Nanggroe memanggil Teuku Raja Sabi yang berada di sampingnya seraya berkata, “Ambillah rencong yang berada di pinggangku serta pengikat kepalaku larilah cepat-cepat mencari ibumu (Cut Meutia), sampaikanlah salam perjuanganku dan teruskanlah perang Sabil, semoga kita akan bertemu nanti di akhirat. (Ismail Yakub; 1979:62).

CUT MEUTIA PART II



Perjuangan Cut Meutia bersama Teuku Chik Tunong
 Awal pergerakannya di mulai pada tahun 1901 dengan basis perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara sekarang) di bawah komando perang Teuku Chik Muhammad atau Teuku Chik Tunong (suaminya sendiri), Cut Meutia berjuang bersama-sama, bahu-membahu dengan suami dan para pejuang lainnya. Ia bukan saja sebagai ibu rumah tangga tapi ia juga bertindak sebagai pengatur strategi pertempuran sehingga taktiknya tersebut dapat memporak porandakan pertahanan pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan merampas senjata serta amunisi mereka yang akan digunakan untuk memperkuat persenjataan pejuang muslimin.
Teuku Chik Tunong dan Cut Meutia di dalam pergerakannya selalu menggunakan taktik perang gerilya dan spionase yaitu suatu taktik serang dan mundur serta menggunakan prajurit memata-matai gerak gerik pasukan lawan terutama rencanarencana patroli dan pencegatan. Taktik seperti ini cukup membuat pasukan Belanda kewalahan dan menjengkelkan mereka.
Taktik Spionase dilakukan oleh para spion dari pasukan pejuang yang menyamar sebagai penduduk (ureung gampong) disebarluaskan di pelosok-pelosok negeri, dengan keluguannya para spion selalu mendapatkan informasi berharga dan tepat sehingga daerah serta lokasi patroli yang akan dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui. Dengan cara seperti ini pasukan muslimin dapat mengatur strategi dan rencana pencegatan untuk melumpuhkan pasukan musuh tersebut karena posisi strategis pada jalur yang akan dilalui sudah dapat dikuasai. Pencegatan dan penyerangan oleh pasukan muslimin dilakukan secara tiba-tiba sehingga pasukan Belanda tidak dapat berbuat apaapa dan dengan mudah pasukan muslimin menghacurkan dan merampas semua senjata dan perbekalan.
Dalam bulan Juni 1902, berdasarkan informasi dari spionnya bahwa pasukan Belanda akan melakukan operasi dan patroli dengan kekuatan 30 orang personil di bawah pimpinan sersan Van Steijn Parve. Di dalam perlawanan tersebut pasukan Belanda mengalami kekalahan yang cukup besar yaitu dengan matinya pimpinan pasukan dan 8 orang serdadu serta banyak anggota pasukan yang cidera berat dan ringan, sedangkan di pihak pejuang muslimin syahid 10 orang (H.C. Zentgraaff, 1983: 152).
Kemudian pada bulan Agustus 1902 pasukan Chik Tunong dan Cut Meutia mencegat pasukan Belanda yang berpatroli di daerah Simpang Ulim Blang Nie. Strategi yang dipakai oleh pasukan muslimin untuk mencegat pasukan Belanda adalah dengan menempatkan pasukannya di daerah yang beralang-alang tinggi dekat jalan tidak jauh dari Meunasah Jeuro sehingga memudahkan para pejuang mengintai dan sekaligus melakukan penyerangan secara tiba-tiba. Di dalam penyerangan ini pasukan Belanda lumpuh total dan para pejuang muslimin dapat merebut 5 pucuk senapan (Muhammad Said, 1985: 265).
Pergerakan dan penyerbuan pasukan Teuku Chik Tunong dan Cut Meutia semakin ditingkatkan. Salah satu taktik lain yang dijalankan adalah taktik tipu daya dan taktik jebakan. Pada bulan Nopember 1902 diisukan oleh salah seorang pejuang muslimin (dalam hal ini Pang Gadeng) bahwa pasukan Teuku Chik Tunong-Cut Meutia beserta pasukan muslimin lainnya akan mengadakan kenduri yang bertempat di Gampong Matang Rayeuk di seberang sungai Sampoiniet. Pemilihan lokasi-lokasi jebakan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa satu-satunya jalan yang akan dilalui menuju tempat tersebut adalah dengan memakai perahu jebakan ini akan mudah dilaksankan. Isu yang disebarluaskan tersebut ternyata mendapat respon serius dari pimpinan pasukan Belanda di desa Matang Rayeuk. Di bawah pimpinan Letnan RDP De Cok bersama dengan 45 orang personilnya, mereka melakukan perjalanan jalan menuju tempat yang diinformasikan tersebut. Setibanya pasukan di tepi sungai telah ada dua orang pendayung perahu (yaitu pejuang muslimin yang menyamar sebagai pengail) tanpa ada kecurigaan sedikitpun pasukan Belanda memerintahkan kepada pendayung tersebut untuk segera menyeberangkan Pasukan Belanda.
Sesuai dengan rencana yang telah disusun dan diatur oleh pejuang muslimin bahwa di tengah sungai pendayung tersebut melakukan gerakan untuk membalikan perahu. Dalam suasana malam gelap gulita kacaulah pasukan Belanda dan dengan tibatiba muncul pasukan Teuku Chik Tunong-Cut Meutia melakukan penyerangan dengan tembakan-tembakan gencar dan dengan pedang serta rencong terhunus melakukan gerakan perkelahian jarak dekat sehingga pasukan Belanda kacau dan punah di saat pertempuran ini pasukan De Cok bersama dengan 28 prajuritnya mati sedangkan pasukan muslimin dalam penyerangan ini dapat memperoleh 42 pucuk senapan (Muhammad Said, 1983: 265; H.C. Zentgraaff, 1983: 153).

Selain dari itu pasukan Chik Tunong-Cut Meutia sering melakukan gerakan sabotase-sabotase dijalan yang dilalui kereta api, penghancuran hubungan telepon sehingga jalur perhubungan untuk mengangkut logistik pasukan Belanda antara bivakbivak seperti di Lhoksukon dengan pertahanan di Kota Lhokseumawe menjadi sering terputus dan terganggu. Hal ini dilakukan pejuang mnslimin sebagai balasan dendam atas peristiwa menyedihkan di Blang Paya Itiek (daerah Samakuruk di selatan gedung) yaitu suatu peristiwa yang memilukan dan tragis sebagai akibat adanya pengkhianatan oleh Pang Ansari (dari Blang Nie) dimana pasukan Belanda menyerang pos pertahanan pasukan Sultan Alaidin Mahmud Daudsyah dan pengikutnya pada peristiwa ini para pejuang muslimin banyak yang syahid sebagai kesuma bangsa, namun Sultan dapat melepaskan diri dari cengkraman musuh dan mengundurkan diri ke Meunasah Nibong Payakamuek.
Selanjutnya pada tanggal 9 Januari 1903 Sultan Mahmud Daudsyah bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja Keumala dan pemuka kerajaan lainnya telah menghentikan perlawanan dan menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda.
Memperhatikan turunnya sultan dan penyerangan perlawanan atas pasukan Belanda tersebut dan menerima surat-surat serta atas anjuran para sahabat seperjuangan, Teuku Chik Tunong memahami kesemuanya itu. Atas kesepakatan dirinya dengan istrinya Cut Meutia pada tanggal 5 Oktober 1903 Teuku Chik Muhammad-Cut Meutia beserta dengan pengikutnya turun dari gunung. Atas persetujuan komandan detasemen Belanda di Lhokseumawe (HNA. Swart) Teuku Chik Muhammad-Cut Muetia dan Pasukannya dibenarkan menetap di Keureutoe tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.
Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad-Cut Meutia adalah sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon (tepatnya tanggal 26 Januari 1905). Peristiwa tersebut diawali dengan terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang sangat besar dan berat bagi pemerintah Belanda. Di dalam penyelidikannya serta berdasarkan informasi yang diterima dan mata-mata Belanda bahwa Teuku Chik Tunong turut terlibat hal ini merupakan fitnah semata oleh karena itu pemerintah Belanda menangkapnya dan di dalam peradilan Militer di Lhokseumawe di putuskan Teuku Chik Tunong Mendapat hukuman gantung dan akhirnya berubah menjadi hukuman tembak mati.
Pelaksanaan hukuman tembak mati dilaksanakan pada bulan Maret 1905 di tepi pantai Lhokseumawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong, tidak jauh dan kota Lhokseumawe. Sebelum hukuman tembak dilaksanakan ia dapat bertemu dengan salah seorang staf setia dalam perjuangan, yaitu Pang Nanggroe. Seorang panglima muslimin yang juga teman yang paling dekat dan dipercaya, kata terakhir yang diucapkan kepada Pang Nanggroe adalah “Sudah tiba masanya aku ini tidak terlepas lagi dari tuntutan hukuman. Pada saatnya hari perpisahan kita sudah dekat, oleh sebab itu, peliharalah anakku, aku izinkan istriku kawin dengan engkau dan teruskanlah perjuangan” (lsmail Yakub, 1979: 49).